Sunday, September 28, 2014

Thomas Aquinas

Thomas Aquinas (1225-1274), berasal dari kota kecil Aquino, antara Roma dan Napoli, dan dilahirkan dari keluarga bangsawan Italia. Aquinas menerima pendidikan awalnya di biara Benedictine di Monte Cassino dan kemudian di Universitas Nepal. Pada tahun 1244 Aquinas, bergabung dengan Dominian Order dan dikirim ke Paris untuk belajar teologi di bawah Albert Yang Agung.

Aquinas memadukan ilmu dan filsafat Aristoteles dengan kebenaran wahyu Kristen. Aquinas terlihat “mengkristenkan Aristoteles” karena menurutnya, tidak ada pertentangan antara dogma Kristen dengan filsafat Aristoteles yang menggunakan rasio.

Aquinas percaya pada adanya sejumlah ‘kebenaran teologis alamiah.’ Yang dimaksudnya dengan hal tersebut yaitu bahwa kebenaran-kebenaran yang dapat dicapai dengan melalui iman dan melalui akal bawaan atau akal alamiah kita. Aquinas yakin bahwa ada jalan menuju Tuhan. Satu jalan melalui iman dan wahyu Tuhan, dan satu jalan lagi melalui akal dan indra.

Bagi Aquinas dasar dari filsafat politik adalah alam (nature). Tujuan manusia digariskan dan ditentukan oleh alam. St. Thomas menyatakan bahwa manusia adalah binatang sosial dan politik. Manusia adalah makhluk sosial karena ia tidak dapat memenuhi dirinya sendiri. Ia membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang lain agar kebutuhannya terpenuhi. Orang-orang berjumlah banyak harus disatukan dalam tatanan kerja sama yang terorganiisir sehingga tujuan bersama dapat dicapai. Aquinas mengatakan bahwa ada beberapa orang dilahirkan dengan kemampuan memimpin, dan yang lain mempunyai kemampuan mengikuti.

Aquinas melihat negara sebagai agen untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Tujuan langsung negara adalah mempertahankan masyarakat yang tertib dengan menjaga perdamaian internal dan eksternal guna menjamin pemenuhan kebutuhan fisik manusia. Tujuan tertingginya adalah penyempurnaan duniawi anggota-anggotanya. Untuk mencapai tujuan kedua ini, negara harus menjaga kehidupan yang luhur dengan meningkatkan pertumbuhan intelektual, moral, dan budaya manusia.

Kekuasaan politik tertinggi terletak pada orang-orang yang terorganisir sebagai komunitas. Pemerintah, baik raja ataupun parlemen tidak mempunyai kekuasaan untuk membuat hukum kecuali mewakili rakyat.

Wednesday, September 24, 2014

Marxisme

Marxisme adalah salah satu bentuk sosialisme. Istilah Marxisme diambil dari nama pendirinya, Karl Marx. Marx menggunakan istilah ideologi untuk menunjuk pada ide, kepercayaan, dan nilai yang mencerminkan kepentingan kelas penguasa tertentu. Dalam suatu masyarakat, kepercayaan dan nilai yang dominan selalu menjadi kepercayaan dan nilai dari kelas penguasa, sementara kelompok masyarakat lain berada dalam "kesadaran palsu."

Marx percaya bahwa fakta masyarakat yang paling mendasar adalah hakikat organisasi ekonomi, yakni "cara produksi." Hal ini mencakup dua hal: metode produksi (pertanian, industri, dll), dan bagaimana produksi terkait dengan masyarakat. Distribusi kekayaan dan kerja adalah landasan struktur kelas. Selama masyarakat memiliki sistem kelas, maka akan selalu terjadi pemisahan antara mereka yang mempunyai alat produksi dan mereka yang menjadi pekerja.

Dalam masyarakat feodal, kelas penguasa terdiri dari pemilik tanah. Sedangkan dalam masyarakat kapitalis, kelas penguasa adalah pemilik modal. Mereka adalah kaum borjuis yang mengontrol alat produksi. Di sini negara dan aparat negara mendukung hak atas kepemilikan dan kepentingan kelas penguasa. Berdasarkan prinsip bahwa substruktur menentukan struktur atas, maka menurut Marx kekuatan sosial dan ekonomi menciptakan perubahan sejarah.

Teori Marx tentang dinamika dasar perubahan sejarah dibangun dari empat ide: perkembangan ekonomi, konflik kelas, dialektika, dan revolusi. Dunia kapitalis bukanlah akhir sejarah. Dengan mengikuti dinamika perkembangan sejarah, Marx memprediksi transformasi tahap kapitalis ke tahap final, yaitu komunisme. Marx mempercayai komunisme merupakan tahap akhir karena akan menyelesaikan konflik dan kontradiksi dalam masyarakat. Marx percaya bahwa setiap kemerosotan ekonomi akan berlangsung semakin rendah dibandingkan dengan kemerosotan ekonomi sebelumnya. Akhirnya, kelas pekerja yang miskin akan dipaksa untuk meruntuhkan kapitalisme atau mendirikan negara pekerja. Jadi sistem kapitalis hancur oleh sifatnya sendiri. Tidak seperti tipe produksi yang lain, kapitalisme industri bergantung pada tenaga kerjanya. Dalam keadaan ini, kaum proletariat berkesempatan untuk mengorganisasikan diri atau apa yang Marx sebut “kesadaran kelas.”

Marx percaya bahwa revolusi komunis akan terjadi setelah kapitalisme mencapai puncak perkembangannya. Revolusi akan terjadi di seluruh dunia dikarenakan kesadaran proletariat benar-benar bersifat internasional. Namun, Marx tidak percaya bahwa revolusi komunis akan segera diikuti dengan berdirinya masyarakat komunis. Masyarakat komunis adalah sebuah masyarakat tanpa pembagian kelas dan tanpa kepemilikan pribadi. Marx sendiri tidak secara gamblang menjelaskan seperti apa masyarakat komunis itu. Tetapi ia pernah menyatakan bahwa masyarakat komunis bukan satu cetak biru utopian yang harus dicita-citakan orang. Masyarakat komunis adalah masyarakat nyata yang niscaya akan dibangun orang ketika orang menganggapnya yang terbaik.

Sunday, September 21, 2014

St. Agustinus

St. Agustinus (334-430) dilahirkan di Tagaste, Afrika Utara, dari ibu yang merupakan penganut Kristiani. Pada usia 16, Agustinus pergi ke Carthago untuk belajar, kemudian ia pergi ke Roma dan Milan, dan menghabiskan hidupnya di Kota Hippo. Selama beberapa waktu, Agustinus menjadi Manichaean, sekte keagamaan dari akhir zaman Yunani Kuno yang memiliki doktrin separuh agama dan separuh filsafat. Untuk sesaat ia juga terpengaruh filsafat Stoic dan Neoplatonisme, sebelum akhirnya berlabuh ke agama Kristen.

St. Agustinus memperkenalkan teori sejarah adalah linier karena memiliki tujuan akhir. Sejarah yang berbentuk siklus tidak sesuai dengan kitab suci. Kegagalan manusia dalam sejarah disebabkan karena dosa asal, bukan karena kesalahan moril. Peristiwa antara jatuhnya bangsa Yahudi dan kebangkitan Kristus adalah masa percobaan, pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Dunia hanya berlangsung sampai akhir zaman dan yang kekal hanyalah kerajaan Tuhan. Agustinus beranggapan bahwa Tuhan sudah maklum siapa yang mau diselamatkan dan siapa yang tidak, dan sebagian dari kita sudah ditakdirkan untuk jadi selamat. Agustinus mengemukakan 6 periode sejarah.

1. Adam sampai air bah

2. Air bah sampai Ibrahim

3. Ibrahim sampai Daud

4. Daud sampai pembuangan di Babilonia

5. Pembuangan di Babilonia sampai Kristus lahir

6. Dari Kristus sampai akhir dunia

Agustinus melihat hubungan antara Tuhan dan jiwa manusia sebagai perhatian utama agama. Karena jiwa diciptakan dalam citra Allah, pengetahuan diri menjadi alat untuk mengenal Tuhan, tak lagi dipahami sebagai soal pengamatan dua akal budi, tetapi juga masalah perasaan. Agustinus mengakui bahwa hubungan manusia dengan kepercayaan dan agama tidak boleh dipisahkan. Tanpa kepercayaan dari agama, manusia akan sesak, dan tanpa akal, orang tak akan memperoleh pengertian yang jelas tentang kepercayaan dan agama itu. Kehendak manusia berpangkal di atas akal, dan cinta kasih sayang mempunyai arti kesucian di atas ilmu pengetahuan. Kebendaan itu pada hakikatnya cahaya. Bahwa jiwa menghendaki tubuh dan tubuh menghendaki jiwa merupakan pandangan yang dualistis.

Seperti Plato, ia berpendapat bahwa tugas manusia ialah memahami kenyataan yang berubah. Penginderaan memberikan pandangan semu dan pengamatan inderawi hanyalah pengetahuan semu. Menurutnya, mengetahui merupakan suatu aktivitas dari jiwa. Ketika sedang mengamati, muncul suatu gambaran yang dibentuk oleh jiwa dan akal budi.

Pada tahun 410, kekaisaran Roma dikuasi oleh kaum visighot yang di bawah kepemimpinannya Alaric. Para penduduk yang tidak percaya kepada Tuhan dan mereka menuduh kalau rakyat Roma telah dikutuk oleh para Dewa karena telah menganut ajaran Kristen yang baru. Sehingga, Agustinus harus meyakinkan dan memberi ajaran-ajaran kepada penduduk tersebut dengan buku yang berjudul “The City of God,” yang berisi tentang pembelaan terhadap kaum Kristen tentang penuduhan kalau penduduk Roma telah dikutuk oleh Dewa. Selain yang berisikan tentang pembelaan terhadap kaum Kristen, di dalam buku tersebut juga berisi tentang filosofi kesejarahan, dan akhirnya dapat mempengaruhi dengan perkembangan yang ada di Eropa. Di semua negara yang ada di dunia ini, Agustinus menandaskan bahwa kekaisaran Romawi tidak memiliki landasan penting, dan sesungguhnya yang terpenting adalah tumbuhnya “kota surgawi,” yaitu kemajuan spiritual dari manusia itu sendiri. Dan untuk mengejahwentahkan kemajuan tersebut, diperlukan gereja.

Menurut St. Agustinus, semua umat manusia hilang setelah Kejatuhan Manusia. Tapi Tuhan memutuskan bahwa orang-orang tertentu harus diselamatkan dari kehancuran menyeluruh tersebut. Konsep dasar yang mendasari The City of God berasal dari wahyu. Semua orang akan menjadi anggota kota Tuhan jika dosa dari taman surga tidak campur tangan. Kadang dikatakan bahwa Agustinus menganggap negara sebagai hal yang perlu hanya karena watak manusia yang sudah menyeleweng akibat dosa asal. The City of God cukup empatik dalam menyatakan bahwa penderitaan yang dialami orang-orang di dunia ini disebabkan oleh tercemarnya sifat manusia oleh dosa. Jika tidak ada dosa, tidak perlu ada perbudakan.

St. Agustinus setuju dengan pemikiran klasik bahwa manusia adalah makhluk sosial dan manusia memerlukan masyarakat untuk membantu perkembangannya. Kedua, St. Agustinus memandang negara sebagai agen utama untuk menjamin ketertiban yang tenang (tranquility of order) yang diperlukan bagi orang-orang untuk menjalani takdir abadinya. Negara diperlukan untuk mencapai tujuan duniawi manusia. St. Agustinus mendefinisikan negara sebagai “kumpulan orang-orang yang berakal yang disatukan oleh persetujuan bersama mengenai tujuan kehidupan mereka.” Negara akan menjadi baik atau buruk tergantung pada maksud dan tujuan yang ingin dicapainya. Sebagaimana orang yang berbuat dosa tetap sebagai manusia meskipun ia menyimpang dari wataknya, demikian juga negara tetap menjadi masyarakat politik meskipun ia mencapai tujuan secara tidak benar dan mengabaikan keadilan.

Selain itu karyanya adalah confessions, de trinitate, dan de civitate dei.

Wednesday, September 17, 2014

Sejarah Ideologi dan Abad Pencerahan

Terdapat banyak ideologi di dunia ini, seperti liberalisme, nasionalisme, kapitalisme, marxisme dan sosialisme. Namun sebelum membahas ideologi dengan lebih mendalam kita harus memahami apa yang dimaksud dengan ideologi. Menurut Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) yang merupakan pencetus pertama ideologi, memaknai ideologi sebagai kritik dari dogma-dogma agama dan otoritas politik yang absolut di Perancis saat itu.

Tracy mengharapkan bahwa ideologi menjadi cabang ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk menemukan hukum-hukum yang melandasi pembentukan serta perkembangan ide-ide dalam masyarakat, sehingga ide-ide tersebut dapat dijelaskan secara rasional, bukan hanya berdasarkan otoritas agama. Dari kacamata sejarah ilmu, yang dilakukan de Tracy jelas merupakan bagian dari proyek besar para filsuf Pencerahan, terutama Francis Bacon (1561-1626), yang berusaha mensterilkan pengetahuan dari prasangka agama, kepentingan pribadi, dan kepercayaan mistik. Bacon berpandangan bahwa dalam upaya mendapat pengetahuan, orang-orang sering mulai dari rasionalisasi yang kurang kuat. Untuk terhindar dari ini, Bacon mengatakan orang harus melepaskan diri dari godaan ideologi. Dalam konteks ini Bacon adalah anti-idola, pemikirannya dianut dalam filsafat abad ke-17 dan 18.

Dengan memasuki ranah politik, term ideologi menjadi semakin kompleks. Konotasi negatif diberikan oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang memerintah Perancis dikarenakan kudeta pada tahun 1799. Napoleon memerintah secara lalim sehingga tidak jarang ia mendapat pertentangan dari kawan-kawannya. Napoleon menyebut mereka sebagai "ideologist" yang bermakna tidak bagus. Dalam pandangan Napoleon, ideologist adalah intelektual-intelektual yang tidak realistis dan doktriner, mereka tidak paham praktik politik.

Kembali lagi pada konteks zaman Pencerahan, bila kita membahas gerakan Pencerahan di Abad ke-18, sudah semestinya kita membahas tokoh-tokoh materialis Perancis yang menjadi “dalang.” Tokoh penggerak Abad Pencerahan adalah Helvetius, Holbach, Voltaire, Rousseau, Montesquieu. Pasca Renaissance, dunia filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang amat sangat pesat. Materialisme Perancis merupakan pertarungan melawan institusi-institusi politik, agama, teologi yang telah berkuasa selama ratusan tahun lamanya. Helvetius (1715-1771) memahami dan mengamalkan materialisme dalam kehidupan sosial. Kualitas indrawi, cinta diri, kegemaran pribadi sebagai basis-basis moralitas. Materialisme berkecambah bersama kualitas alamiah kecerdasan manusia; kemajuan tenaga produktif dari ilmu pengetahuan dan industri. Helvetius berpendapat bahwa agama adalah sumber segala takhayul dan kebodohan. Ia percaya bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah panca indera, karena itu manusia harusnya berpegang pada fakta-fakta, bukan agama. Tidak berbeda jauh dengan Helvetius, Hollbach (1723-1789) menyatakan materi merupakan segalanya. Ia mengaitkan antara materialisme dan atheisme, dan ia memiliki pandangan agama yang sangat kritis. Ia juga menggabungkan materialisme Prancis dan Inggris dan mengembangkan inti moralitas yang telah diletakkan oleh materialisme Helvetius. Teori Hollbach dan Helvetius inilah yang sering disebut "tipuan kaum agamawan (priestly deccit).

Sunday, September 14, 2014

Plato

Plato (428 SM) lahir dalam keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston dan ibunya Periktione. Plato mulai mengenal dan menjadi murid Socrates sejak ia masih anak-anak. Menurut Plato dalam Phaidon, Socrates adalah “orang paling baik, paling bijaksana, dan paling jujur.” Plato juga dipengaruhi oleh Kratylos, filsuf yang meneruskan ajaran Herakleitos. Kratylos berpendapat bahwa dunia kita berada dalam perubahan terus menerus, sehingga pengenalan tidak mungkin, karena suatu nama pun tidak dapat diberikan kepada benda-benda.

Kematian Socrates memadamkan ambisi politiknya dan membuatnya membenci sistem demokrasi di Athena pada masa itu. Ia mendapat keyakinan bahwa satu-satunya pemecahan ialah menjadikan penguasa sebagai filsuf. Sesudah Socrates meninggal, Plato beserta teman-temannya menetap di Megara dengan murid Socrates yang bernama Eukleides.

Sesudah kembali dari Italia, Plato mendirikan sebuah sekolah bernama Akademia yang terinspirasi dari pahlawan Athena, Akademos. Banyak yang mengatakan bahwa Akademia merupakan sekolah yang pertama, tetapi hal itu tidak tepat, karena Sokrates mendirikan sekolah tidak lama sebelumnya. Sekolah Isokrates hanya mengajarkan retorika, sedangkan Akademia mengutamakan matematika dan ilmu pasti. Bahkan di atas pintu masuk Akademia berbunyi “Yang belum mempelajari matematika, jangan masuk.” Plato mengepalai Akademia selama 40 tahun sampai pada kematiannya. Pada saat meninggal, karangannya yang bernema Nomoi belum selesai. Cicero mengatakan “Plato scribens est mortuus,” yang berarti “Plato meninggal ketika sedang menulis.”

Plato mengekspresikan pemikirannya melalui dialog-dialog yang mana Socrates menjadi pemeran utamanya, tidak seperti filosof lain yang kebanyakan menggambarkan dengan narasi.

Menurut Plato, realitas terdiri dari 2 dunia, dunia jasmani yang dapat dirasakan panca indra, dan dunia ide dimana segala hal konkret berasal. Pandangan Plato inilah yang dikenal sebagai dualisme-nya.

Aristoteles

Aristoteles menganggap jiwa sebagai prinsip hidup. Dalam masa mudanya, anggapan Aristoteles tidak berbeda jauh dengan dualisme Plato seperti dalam dialog Eudemos, tetapi dalam de anima ia menganggap jiwa dan badan sebagai dua aspek yang berasal satu substansi saja. Dua aspek ini memiliki hubungan "materi" dan "bentuk" yang punya peranan sebagai potensi dan aktus. Contohnya jika kucing mengeong, itu adalah aktualisasi yang dilaksanakan suatu aktus. Tetapi kucing tidak menjadi kucing karena aktus mengeong, kucing adalah kucing karena jiwanya.

Dalam perspektif kelimuan, Aristoteles membedakan ilmu spekulatif dan ilmu praktis. Ilmu spekulatif contohnya fisika, metafisika, dan matematika tujuannya hanyalah untuk mengetahui. Ilmu praktis seperti etika dan politik, berhubungan dengan dampak tindakan manusia.

Aristoteles menyangkal Plato bahwa orang berpengetahuan banyak pastilah bijak. Aristoteles berpandangan bahwa kebijakan tidak diperoleh dengan belajar, tetapi dengan disiplin moral, praktik, dan pengalaman.

Ajaran keutamaan (arete) Aristoteles berbeda dengan Socrates dan Plato yang menyamakan keutamaan dengan pengetahuan, dan berpantanggan bahwa siapa yang tahu baik maka akan menjadi baik. Aristoteles tidak berpendapat bahwa keutamaan dapat diajarkan. Maksud Aristoteles dapat digambarkan melalui contoh sederhana ini: seorang anak dilarang orangtuanya untuk mencuri. Jika dia tidak mencuri, belum dapat dikatakan dia melakukannya berdasarkan keutamaan. Tetapi mungkin suatu sikap akan tertanam dalam hati bahwa mencuri tidak baik dan dia tidak mencuri karena keutamaan tersebut.

Pemikiran Aristoteles yang paling kontroversial adalah upaya mempertahankan perbudakan. Dia membedakan perbudakan menjadi dua: alamiah dan institusional. Budak alamiah adalah orang yang secara alamiah bukan milik dirinya melainkan milik orang lain. Budak institusional meliputi tawanan perang, penundukan suku tertentu menjadi pelayan, dan pelembagaan perbudakan. Aristoteles menganggap perbudakan institusional tidak adil karena didasarkan atas kekuatan, bukan alamiah.

Aristoteles sepakat dengan Plato bahwa manusia adalah hewan politik yang bisa memenuhi wataknya hanya dalam polis; bahwa negara merupakan institusi moral yang ada untuk membantu manusia mencapai kesempurnaannya; negara berupaya menyejahterakan semua, dan bukan hanya untuk kebaikan sekelompok saja.

Aristoteles melihat bahwa negara didirikan dari rumah tangga, yang mana di dalamnya terdapat tiga hubungan manajemen keluarga. Aturan majikan terhadap budak disebut despotik. Aturan suami terhadap istrinya disebut konstitusional, yakni kesetaraan atas kesetaraan. Perempuan memiliki kebebasan tertentu, namun Aristoteles menganggap lebih baik menaruh otoritas pada suami. Ketiga aturan ayah atas anaknya yang disebut aturan royal. Aristoteles mengembangkan ini menjadi bentuk pemerintahan; despotic mejadi peraturan tiran; konstitusional menjadi peraturan antara yang setara; dan royal menjadi peraturan monarki yang bijak.

Aristoteles menggolongkan susunan negara atas dasar tiga macam konstitusi, di mana masing-masing konstitusi dapat menghasilkan bentuk negara yang baik dan buruk. Disebut baik apabila untuk kepentingan umum, dan buruk apabila hanya diarahkan pada kepentingan penguasa saja. Ketiga bentuk yang baik adalah monarki, aristokrasi, dan politeia. Ketiga bentuk yang buruk adalah tirani, oligarki, dan demokrasi.

Sunday, September 7, 2014

Socrates

Socrates lahir di Athena, ayahnya, Sophroniskos, merupakan tukang pembuat patung, sedangkan ibunya, Phinarete, adalah seorang bidan. Pada mulanya, Socrates mau menuruti jejak ayahnya membuat patung, tetapi ia berganti haluan menjadi pembentuk watak manusia. Raut muka Socrates tidak tampan, dalam dialog Plato yang berjudul Symposion, seorang anak muda membandingkan Socrates dengan Satyros, tokoh mitologi yunani yang setengah binatang dan setengah manusia. Sepanjang hari Socrates berada di pasar, dan bercakap-cakap dengan banyak orang termasuk kaum sophis untuk mencari siapa yang lebih bijaksana daripada dia, karena ia tidak mempercayai pernyataan dewata di Delphoi bahwa Socrates lah orang paling bijaksana lah di Athena. Hingga Socrates menarik kesimpulan bahwa alasan mengapa ia dianggap bijaksana, karena ia menyadari bahwa ia tidak bijaksana. Metode bertanya Socrates ia sebut maieutike tekhne (metode kebidanan), di mana ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain.

Dua murid Socrates, Xenophone dan Plato, banyak menulis tentang Socrates. Pembelaan Xenophones terhadap Socrates telalu hebat, Socrates tidak mungkin dihukum mati apabila dia memang seperti itu. Sedangkan dalam tulisan Plato, Socrates hanya berperan sebagai penyambung lidah pendapat Plato sendiri.

Pemikiran Socrates diantaranya adalah kebenaran objektif, ia membantah argumen kaum sophis bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada. Menurut Xenophone, ia bertanya kepada setiap orang, ia menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban lebih lanjut ia menarik kesimpulan. Jika hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain dan begitu seterusnya. Seperti contohnyaa pertanyaan apakah kursi itu? Kita menemukan kursi hakim, kursi malas, dari kedua kursi itu terdapat persamaan (1) tempat duduk (2) sandaran. Sehingga kita tidak perlu mengatakan pada tukang kursi untuk membuatkan kita kursi yang ada tempat duduk dan sandarannya. Sokrates menanyai setiap orang, termasuk kaum sophis, tidak jarang kaum sophis dibuat kewalahan karenanya dan menjadi musuhnya.

Socrates tidak pernah memberi wejangan tentang urusan publik dikarenakan selalu ada “suara ilahi” yang melarangnya tapi tak pernah memerintahnya melakukan apa yang ia ingin lakukan. Inilah yang mencegahnya menjadi politisi. Socrates juga tidak menganut teori tentang negara yang dikemukakan oleh sophis waktu itu, tetapi ia meneruskan prinsip etikanya dalam bidang politik. Menurutnya tugas negara ialah memajukan kebahagiaan warga negara dan membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin. Karena alasan itu dia tidak menyetujui demokrasi di Athena , di mana pemegang kekuasaan ditentukan dengan undian.

Pada tahun 399, Socrates diajukan ke pengadilan rakyat dengan dua tuduhan. Tuduhan pertama bahwa ia meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan mengemukakan dewa baru, dan yang kedua ia dianggap menyesatkan kaum muda. Para penuntut Socrates adalah Anytus, seorang politisi demokrat, Meletus, seorang penyair tragedi, dan Lykon, ahli pidato yang tidak menonjol.  Socrates mengusulkan hukuman denda uang 30 Minae yang malah membuat hakim merasa dilecehkan dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Plato menuliskan pembelaan Socrates dalam dialog berjudul Apology. Dalam pengadilan itu, Socrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara, 280 lawan 220. Biasanya hukuman mati dilaksanakan dalam tenggang waktu 12 jam. Akan tetapi saat itu perahu layar keramat Athena sedang berlayar dan menurut tradisi, hukuman mati baru boleh dijalankan setelah perahu itu kembali. Socrates pun menghabiskan satu bulan terakhir hidupnya dengan murid dan teman-temannya. Ia menolak segala bujukan teman-temannya untuk melarikan diri, dan ia meminum racunnya dengan tenang dan dengan air muka yang jernih.

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...