Sunday, January 11, 2015

How are Tattoos a Form of Self Expression?

Malam menjadi siang, dan siang tetap siang, itulah kenyataan mahasiswa. Tapi pernyataan itu terbalik ketika mahasiswa memasuki libur semester. Berbeda dengan anak sekolah, libur semester yang dimiliki mahasiswa terhitung panjang, bisa sampai dua bulan lebih. Pada minggu pertama, mahasiswa terlihat enjoy dengan liburannya. Namun ketika memasuki minggu-minggu sesudahnya, mahasiswa mulai depresi karena kehabisan rencana untuk liburan. Tidak jarang, beberapa mahasiswa memilih menghabiskan liburannya dengan membuang-buang waktu seperti tidur seharian, dan beberapa lagi memilih untuk mempersiapkan diri menyambut semester baru dengan membaca banyak buku.
Aku (mungkin) termasuk ke tipe yang kedua, aku membuat reading list untuk buku-buku yang akan aku baca. Tapi tidak satupun buku di reading list itu yang menunjangku-mempersiapkan-semester-baru. Entahlah, buku-buku fiksi di lemari terlihat lebih menggoda dibandingkan literatur kuliah.
Buku yang sedang aku baca sekarang adalah The Lost Symbol karya Dan Brown. Yup, sebuah buku lama. Aku telah tamat membaca Inferno dan sangat menyukai cara dia menulis. Mungkin karena dia telah menemukan gaya menulisnya? Well, symbolism (and conspiracy theory) has been his way of life. “Dunia ini dihubungkan dengan simbol-simbol, dan setiap simbol memiliki makna tertentu.” Tidak heran dia tak pernah kehilangan ide untuk menulis, lukisan da Vinci dalam Da Vinci Code, Freemasonry dalam The Lost Symbol, dan topeng kematian Dante dalam Inferno. Aku baru membaca sampai halaman 16 tetapi sudah terhenyak dalam jalan ceritanya yang epic.
Ada alasan mengapa aku berhenti di halaman 16. Di halaman itu, aku menemukan kata “tato.” Aku teringat teman yang sangat menyukai tato karena tato terlihat indah. Dia sampai bertanya padaku apakah ada dalil yang mengharamkan kita untuk merajah tubuh. Karena sama-sama tidak tau, kami memutuskan untuk meminta bantuan om google.
Ternyata ada!
Oh tidak. Seringkali kehendak atas kepemilikan diri berbenturan dengan keyakinan. Aku berpendapat membuat tato tidak masalah, pembuatan tato justru adalah aksi yang menunjukkan kau memiliki kehendak sepenuhnya akan tubuhmu. Nah, lalu apa hubungannya dengan halaman 16? Di halaman itu tertulis tujuan pembuatan tato sama sekali bukan keindahan, melainkan perubahan.
Menato kulit merupakan pernyataan kekuasaan yang transformatif, pernyataan kepada dunia: Aku mengendalikan kulitku sendiri. Tato seringkali dibuat dari simbol yang merepresentasikan momen paling berkesan dalam hidup dan pengalaman hidup itulah yang membuat kita menjadi manusia dengan karakter seperti sekarang ini. And for many people, they like to show it loud and proud karena seperti kata Dan Brown, jiwa manusia mendambakan kekuasaan atas cangkang jasmaniahnya.

Monday, January 5, 2015

Can People With Different Political Views be Friends?

Dunia perpolitikan kampus semakin menggerogoti sendi persahabatan. Ketika seorang temanku bertanya apa kami akan masih sama lagi seperti sebelum pemilu raya, aku dengan santai menjawab tentu, jika kita telah berteman sebelum masuk ke organisasi, mengapa setelah kita masuk organisasi kita tak dapat berteman lagi? Walaupun kita menjadi kader dari organisasi yang berbeda dan saling berseteru. Hal itu tidak cukup menjadi alasan putusnya tali pertemanan kita. Setidaknya itulah yang jawabanku apabila ada yang menanyakan mengapa kami masih berteman sampai saat ini.
Mudah untuk berbicara, tetapi sulit untuk dijalankan. Idiom itu mencerminkan sulitnya mempertahankan teman, sulitnya mentoleransi perbedaan yang ada. Demokrasi akan selalu menghasilkan yang menang dan yang kalah. Dan kini, aku berada di pihak yang kedua. “Kita menang, namun dikalahkan oleh sistem.” Itulah yang berulang kali dikumandangkan teman-teman seorganisasiku. Pada awalnya aku sangat sedih, kecewa pada temenku yang beda organisasi karena berdiam diri melihat kenyataan yang dimanipulasi. Idealisme yang mereka miliki digadaikan dan ditukar demi sebuah kursi.
Waktu memang dengan seenaknya dapat memilah milih kenangan mana saja yang dapat kita ingat, dan mana yang dapat kita lupakan. Walaupun kita telah berambisi tidak akan melupakan suatu pengalaman pahit, waktu dapat mengikis rasa sakit, pahit, dan dendam itu dalam hitungan hari. Beberapa hari setelah diumumkannya hasil pemilu raya, aku telah bersikap seperti biasa dengan mereka, seakan pertengkaran kemarin tidak pernah terjadi. Rasa kecewa memang masih ada, apalagi ketika aku berkumpul dengan teman seorganisasi yang telah bekerja tanpa henti. Buah kemenangan aku kira selayaknya dipersembahkan kepada mereka. Namun politik tidak sesimple itu kawan, bermain fair bukanlah jaminan bagi kita untul memperoleh kemenangan. Ketika aku menulis ini, aku terbayang-bayang Niccolo Machiavelli yang pernah mengatakan etika dan politik adalah dua hal yang berbeda. Dalam berpolitik, penguasa tidak boleh mempertimbangkan apakah tindakannya etis atau tidak. Ia membenarkan segala cara yang dilakukan untuk tujuan merebut kekuasaan. Miris sekali, ketika mereka yang bukan Machiavellian ternyata mampu menerapkan filsafat Machiavelli dibanding aku yang telah lama mempelajarinya.

Friday, January 2, 2015

Start Writing No Matter What

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tak terasa sekarang kita kembali lagi ke tanggal 1 Januari, tanggal pertama dalam tahun yang baru.
Bila berbicara tahun baru, setiap orang pasti memiliki resolusi, impian yang mereka usahakan untuk tercapai di tahun ini, dan berharap tahun ini akan menjadi tahun yang lebih baik dibandingkan tahun kemarin. Begitu pula denganku.
Resolusi 2014 ku aku akui gagal, aku bahkan lupa apa saja resolusi di tahun lalu karena terlalu banyak point, ini juga yang menyebabkan aku tidak fokus dan missed. But I have learned from this experience, tahun ini aku hanya akan berfokus pada menulis. Well, ini adalah tantangan buatku. Actually aku adalah orang yang suka mengkritik, amat sangat suka, dan seharusnya menulis bukanlah hal yang sulit. Tetapi aku seringkali terbuai dengan rasa malas berkedok “tidak ada waktu” dan akhirnya tidak menulis sama sekali.
Aku menceritakan masalah ini pada seorang kawan yang produktif menulis di sela waktu sibuknya. And he said one simple thing to me, “menulislah sekarang, waktu tidak akan pernah menunggumu.” Iya juga ya, semakin ditunda akan menjadi semakin lupa. I have no clue how can that really simple thing makes a big impact to me. Maybe that’s the one that Paulo Coelho said as “the simple things are also the most extraordinary things.”

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...