Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, sementara khalifah pertama adalah Abdullah Ash-Shaffah. Kekuasaan dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yaitu sekitar lima abad. Berdirinya pemerintahan ini dikarenakan pemikiran Bani Hasyim yang dikumandangkan bahwa yang berhak berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, sejarawan biasanya membangi masa pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi 4 periode. Periode pertama (750-847 M), periode kedua (847-946 M), periode ketiga (946-1055 M), dan periode keempat (1055-1258 M). Pada periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasan, para khalifah benar-benar menjadi pusat kekuatan politik dan agama, kemakmuran masyarakat juga mencapai puncak tertinggi. Pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah.
Pada masa ini hidup pula para filsuf, pujangga, ahli baca Al-Qur’an dan para ulama. Didirikan perpustakaan Baitul Hikmal yang digunakan sebagai tempat belajar dan berdiskusi. Ilmu-ilmu pengetahuan agama mulai tumbuh dan berkembang pada dinasti ini, begitu pula 4 mazhab fiqh yakni Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali. Di samping itu, berkembang pula ilmu filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, georgrafi, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran, dan kimia. Ilmu-ilmu tersebut masuk melalui terjemahan buku ilmu pengetahuan berbahasa lain ke bahasa Arab, seperti kitab Republik dari Plato, dan kitab Kategori, Metafisika, Magna Morlia dari Aristoteles. Pada masa pemerintahan khalifah ke-7 yaitu Al-Makmun, pengaruh Yunani sangat kuat.
Dijadikannya kota Baghdad sebagai ibu kota menggantikan Al-Hasyimiyah oleh Al-Manshur, memiliki arti yang penting. Sejak awal, Baghdad merupakan pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Baghdad mencapai puncaknya pada masa Harun Ar-Rasyid. Beberapa kemajuan dalam bidang kehidupan masa itu meliputi kemajuan di bidang agama; fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu bahasa, bidang umum; filsafat, ilmu kedokteran, farmasi, ilmu astronomi, geografi, sejarah, sastra. Walaupun banyak terjadi kemajuan dalam bidang pengetahuan, kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui di Spanyol dan Afrika Utara, bahkan dalam kenyataannya banyak wilayah yang tidak dikuasai khalifah. Akibatnya, banyak provinsi di pinggiran mulai lepas dari genggaman Dinasti Abbasiyah dilatarbelakangi oleh perbedaan paham keagaaman, Sunni dan Syi’ah.
Semua yang berjaya pasti akan jatuh juga, hal ini juga menimpa Dinasti Abbasiyah. Gemerlapnya Baghdad sebagai pusat dinasti ini seolah-olah hanyut dibawah sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut menjadi hitam pekat karena lunturan tinta. Semua bangunan dan perpustakaan yang merupakan gudang ilmu dibumihanguskan oleh tentara Mongol pada tahun 1289 M. Pada tahun 1400 M, kota ini diserang oleh pasukan Timur Lenk dan pada 1508 M diserang oleh Kerajaan Safawi. Kemunduran dinasti ini juga dilatarbelakangi oleh merosotnya perekonomian, konflik antar aliran-aliran Islam, dan Perang Salib.
Bani Abbasiyah memiliki peran yang paling vital dalam sejarah peradaban Islam, bahkan dapat dikatakn bahwa dinasti ini merupakan tonggak awal ‘Aufklarung’ dalam dunia Islam. Karena berbeda dengan dinasti sebelumnya yang gencar melakukan ekspansi, dinasti ini memfokuskan konsentrasi pada ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dijadikan pelajaran bahwa untuk menjadi bangsa yang besar, kuat dalam militer saja tidak cukup, yang menjadi modal utama adalah kualitas sumber daya manusia terlebih dalam inovasi menggali dan mencari pengetahuan.
No comments:
Post a Comment