Saturday, December 3, 2016

Cara Berpakaian Mempengaruhi Birahi?

Jika tidak mau dinodai oleh tangan nista lelaki, jagalah perilaku dan cara berpakaian kalian!

Pernah tidak kalian mendengar nasihat seperti itu? Jika pernah dan anda merasa nasihat tersebut terkesan mendiskreditkan anda, saya sarankan anda untuk mempelajari seksualitas. Seksualitas kerap disamakan dengan seks, padahal seksualitas memiliki arti yang jauh lebih luas dari seks yang hanya merupakan perbedaan biologis alat kelamin. Saya mengambil contoh sebuah balon. Jika ada pertanyaan apakah itu balon atau bukan, kita hanya memiliki dua jawaban ya atau tidak. Begitu pula dengan seks, hanya ada dua jawaban yang tersedia, laki-laki atau perempuan. Lain lagi dengan pertanyaan seperti apakah balon itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai macam jawaban yang berkaitan dengan balon, seperti balon adalah benda yang dapat mengembang bila ditiup, atau balon adalah benda yang terbuat dari karet dan sering ada dalam pesta ulang tahun. Seksualitas juga sama, seksualitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan seks. Ini berarti seksualitas mencakup fisik, perilaku, moral, dan norma.

Cukup rumit membicarakan seksualitas perempuan, karena tidak seperti laki-laki yang seksualitasnya dianggap alamiah, seksualitas perempuan dikonstruksi oleh masyarakat. Bagaimana seharusnya cara seorang perempuan bertingkah laku dan berpakaian semuanya diatur oleh lingkungan sosial. Saya pernah mendengar ungkapan yang menganalogikan perempuan seperti makanan. Perempuan dengan pakaian terbuka dianalogikan sebagai gorengan yang dijual di pinggir jalan, kotor, sudah terkena debu dan asap, dan siapapun boleh mengambilnya dan meletakkannya kembali. Sedangkan perempuan berpakaian tertutup ibarat roti yang dilindungi plastik. Saya memiliki beberapa alasan untuk menolak analogi ini. Pertama, membandingkan perempuan dengan benda mati adalah dehumanisasi karena tidak menjadikan manusia sesuai dengan kodratnya. Kedua, perempuan yang ‘bebas diambil dan diletakkan kembali’ mengesankan perempuan menjadi subordinatif.

Perempuan dianjurkan untuk berpakaian serapat mungkin seolah tubuh perempuan adalah hal yang hina. Helai rambut perempuan pun harus ditutupi, karena mengundang birahi dan berakibat terjadinya pelecehan seksual. Tetapi benarkah demikian, apa angka pelecehan seksual akan rendah apabila perempuan senantiasa membungkus dirinya dengan kain? Mari kita lihat.

Dilansir dari BBC Indonesia, Mesir menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan angka pelecehan perempuan paling tinggi. Terhitung sebanyak 99,3% perempuan dan anak perempuan di Mesir menjadi korban pelecehan seksual. Kemudian disusul oleh Irak di peringkat kedua. Survei mengatakan Irak saat ini menjadi lebih berbahaya bagi kaum perempuan dibandingkan dengan masa kekuasaan Saddam Hussein. Arab Saudi menduduki peringkat ketiga dikarenakan terdapat diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik, kerja, dan hak-hak properti. Negara dengan angka pelecehan tertinggi terhadap perempuan selanjutnya adalah Suriah dan Yaman. Miris melihat lima dari lima negara dengan angka pelecehan seksual tertinggi adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim, yang justru busana perempuannya dibalut kain dari kepala hingga kaki. Ini membuktikan bahwa tata cara perempuan berpakaian tidak memiliki posisi yang signifikan dengan angka pelecehan seksual. Jadi, apakah anda masih memilih untuk menyalahkan perempuan karena libido anda yang tinggi?

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...