Monday, March 13, 2023

Rangkuman Faksionalisasi dan Dualisme Partai

• Faksionalisasi Partai Islam Masyumi melahirkan Partai NU

• Faksionalisasi Partai Golkar melahirkan PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem

Pada 1998, Panglima ABRI Jenderal Purn. Edi Sudradjat hengkag dari Golkar setelah berebut jabatan Ketum dengan Akbar Tandjung dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Akbar Tandjung menjabat Ketum, dan Edi keluar mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (kemudian berubah jadi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia atau PKPI).

Pada Munas 2004 yang dimenangkan oleh JK yang saat itu menjabat Wapres SBY, Akbar Tandjung, kandidat kuat pesaing JK merasa ditikung oleh Agung Laksono. Akbar Tandjung memuluskan langkah Agung Laksono menjadi Ketua DPR menggantikan dirinya, namun Agung Laksono malah mendukung JK saat Munas Golkar.

Pasca memenangkan Pemilu 2004, Golkar kembali mengalami perpecahan internal dimana dua tokoh pentolan yakni Prabowo Soebianto dan Wiranto hengkang dari Golkar. Pada masa JK menjadi Wapres ini, Wiranto mundur dan mendirikan Partai Hanura pada 2006 untuk melanjutkan tujuan Wiranto menuju RI-1. Perjalanan Hanura menjadi menarik tatkala Pilpres 2004 dimana Wiranto-Gus Dur menjadi Capres yang diusung Golkar, namun kalah dari paslon SBY-JK. Sebelumnya, JK adalah kader Golkar yang tidak mendapatkan dukungan dari partainya sendiri. Plot twistnya lagi, adalah ketika JK mengalahkan Wiranto dalam pemilihan Ketum Golkar.

Sementara, Partai Gerindra didirikan oleh Prabowo Soebianto sesaat menjelang Pilpres 2009.

Munas berikutnya tahun 2009, Aburizal Bakrie terpilih menjadi Ketum dengan selisih tipis dari Surya Paloh. Pada 2011, Surya Paloh mendeklarasikan Partai Nasdem. Nasdem sebelumnya adalah ormas besutan Surya Paloh yang dijadikan partai politik.

Golkar di bawah Aburizal Bakrie tidaklah solid. Hal ini menyebabkan perolehan suara Golkar tidak sesuai yang ditargetkan pada Pileg 2014.

Pada 2014, Aburizal Bakrie terpilih sebagai Ketum dalam munas Bali (menjadi oposisi Jokowi). Namun, kader yang tidak terima membuat munas tandingan di Ancol dimana Agung Laksono terpilih menjadi Ketum (merapat ke Jokowi). Dualisme ini terselesaikan setelah musyawarah nasional luar biasa pada 2016 yang memenangkan Setya Novanto sebagai Ketum Golkar.

• Faksionalisasi PDIP melahirkan partai-partai nasionalis yang kemudian menghilang dalam politik elektoral

• Faksionalisasi PPP melahirkan Partai Bintang Reformasi

Pada 2014, KPK menetapkan Ketum PPP Suryadharma Ali sebagai tersangka korupsi penyelenggaraan haji. Romahurmuziy sebagai sekjen DPP PPP saat itu memecat Suryadharma, namun ia tidak terima dan balik memecat Rommy. Setelah muktamar di Surabaya, terpilih Rommy menjadi Ketum PPP. Akan tetapi, kubu Suryadharma juga menggelar muktamar di Jakarta yang memenangkan Djan Faridz. Pada akhirnya, pemerintah memilih mengesahkan kepemimpinan Rommy. Pada 2019, Rommy ditangkap KPK dan digantikan oleh Suharso Monoarfa, PPP kubu Djan Faridz perlahan mulai menerima dan melebur ke bawah pimpinan Suharso.

• Faksionalisasi PAN melahirkan Partai Ummat

• Faksionalisasi Partai Demokrat melahirkan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN)

• Faksionalisasi PKS melahirkan Partai Gelora


No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...