Menulis itu begitu sulit, terlebih untuk orang yang perfeksionis. Aku selama ini terbiasa menjadi pembaca dan tidak pernah memerhatikan proses bagaimana suatu ide dieksekusi menjadi tulisan. Saat membuat tugas saja sering sekali aku tertegun bermenit-menit hanya untuk membuat satu kalimat dan sangat jengkel ketika kalau ada yang tidak runtun di antar kalimat atau paragraf. Belum lagi saat aku ingin menuliskan begitu banyak hal dan semua sudah ada di ujung lidah namun bingung menuangkannya dalam tulisan.
Di jurnalisme aku pun tidak ada kemajuan. Dua orang senior FISIP NEWS yang sudah bekerja di redaksi memberiku masukan untuk lebih sering menganalisa berita, jangan hanya membacanya saja. Beberapa media memiliki karakteristiknya masing-masing. Detik misalnya lebih mengutamakan aktual daripada faktual, yah tercermin sih dari namanya mereka ingin merilis berita di detik yang sama dengan waktu kejadian, masalah faktual bisa direvisi di berita selanjutnya. Beberapa media lain suka memasang judul yang tidak sesuai dengan isi berita, dan memang ditujukan sebagai clickbait agar pembacanya penasaran dengan konten berita tersebut.
Berbicara mengenai yang terakhir, sering kali saat iseng scrolling media sosial aku melihat link artikel yang isinya seperti "terlihat berduaan dengan X, apakah Y homoseksual?," atau "tidak disangka-sangka! artis ini ternyata mendukung freesex dan homoseksual." Banyak sekali sebenarnya artikel dan berita yang memberikan konotasi negatif terhadap LGBT dan menjadikannya lelucon untuk menarik viewers semata. Beruntung untukku yang belakangan ini menghabiskan waktu di kantor Jurnal Perempuan, karena kebetulan JP sedang mempersiapkan Training Media Meliput LGBT yang akhirnya terwujud akhir Mei kemarin.
Saskia Wieringa, Penulis The Crocodile Hole
Training diadakan di Chasakasa Garden Bistro, Kemang, cukup dekat karena masih di bilangan Jakarta Selatan. Banyak teman-teman yang datang dari redaksi nasional dan ada satu dari redaksi kampus selain aku. Sedikit cerita kami tidak sengaja duduk bersebelahan dan saat training penulisan dimulai, semua membuka laptop dan kaget sekali aku saat lihat sebelahku pakai walpaper PMII! Haha. Ternyata namanya Ikhfal dari Cirebon dan kami langsung berteman dekat seperti sahabat (sahabati) yang sudah pernah bertemu lama.

Kembali ke training, setelah penjabaran materi kami langsung praktik dengan mencari konten berita tidak ramah LGBT dan menuliskan ulang bagaimana berita tersebut seharusnya dituliskan. Tidak sulit untuk ditemukan karena semua media kita sangat bias dan ini membuatku kembali memikirkan bagaimana bisa-bisanya media menyediakan informasi yang tidak berimbang? Media notabenenya merupakan sumber informasi utama bahkan satu-satunya untuk sebagian orang, dan segala konotasi negatif serta berat sebelah mengenai LGBT pasti tercerna oleh pembaca media tersebut.
LGBT gangguan mental dan harus di-ruqyah? Mereka hanya segelintir orang hypersex penyebar HIV? Ah ayolah, sudah banyak informasi di luar sana. Media kita memang tidak bisa diandalkan dalam hal keakuratan, maka dari itu pembaca perlu mencari informasi lain agar berimbang serta tidak menelan mentah-mentah informasi dari satu sisi saja.