Wednesday, June 24, 2015

Eye for an Eye

There was a small family consist of father, mother, the older, and the younger. They lived happily until a disaster happened. The two kids desired to help their mother cooked. Mother asked the older to bring a knife from shelf in the dinning room, while the younger was serving plates.
The older ran carelessly towards the kitchen with a knife on his hand. But unfortunately, he slipped and the knife hit the younger’s eyes. And soon the younger was rushed to the hospital.
Poor the younger, the doctor said his eyes cannot be saved and he had to live with one eye all his life.
The story like this usually end up with words like “the younger forgive his brother even though he must be blind for life.” But heeeey, do you think it’ll gonna end up that well? What I am talking here is all about treatment to the older after the incident. The older would have chewed out so badly by his parents.
Everybody knows that all happened, cannot be changed. The younger will be blind, even though the brother feels very very sorry. But still, the older always in haunted by guilt like “it was all your fault your brother goes blind.” The older will be blamed, although that incident was happened not on purpose, although it’s useless to have blame on him.
Does eye should be paid with eye too so he won’t be blame anymore? What to Choose? Revenge or Let Go?

Wednesday, June 17, 2015

Kesulitan Menulis dan Pelatihan Jurnalistik Meliput LGBT

Menulis itu begitu sulit, terlebih untuk orang yang perfeksionis. Aku selama ini terbiasa menjadi pembaca dan tidak pernah memerhatikan proses bagaimana suatu ide dieksekusi menjadi tulisan. Saat membuat tugas saja sering sekali aku tertegun bermenit-menit hanya untuk membuat satu kalimat dan sangat jengkel ketika kalau ada yang tidak runtun di antar kalimat atau paragraf. Belum lagi saat aku ingin menuliskan begitu banyak hal dan semua sudah ada di ujung lidah namun bingung menuangkannya dalam tulisan.

Di jurnalisme aku pun tidak ada kemajuan. Dua orang senior FISIP NEWS yang sudah bekerja di redaksi memberiku masukan untuk lebih sering menganalisa berita, jangan hanya membacanya saja. Beberapa media memiliki karakteristiknya masing-masing. Detik misalnya lebih mengutamakan aktual daripada faktual, yah tercermin sih dari namanya mereka ingin merilis berita di detik yang sama dengan waktu kejadian, masalah faktual bisa direvisi di berita selanjutnya. Beberapa media lain suka memasang judul yang tidak sesuai dengan isi berita, dan memang ditujukan sebagai clickbait agar pembacanya penasaran dengan konten berita tersebut.

Berbicara mengenai yang terakhir, sering kali saat iseng scrolling media sosial aku melihat link artikel yang isinya seperti "terlihat berduaan dengan X, apakah Y homoseksual?," atau "tidak disangka-sangka! artis ini ternyata mendukung freesex dan homoseksual." Banyak sekali sebenarnya artikel dan berita yang memberikan konotasi negatif terhadap LGBT dan menjadikannya lelucon untuk menarik viewers semata. Beruntung untukku yang belakangan ini menghabiskan waktu di kantor Jurnal Perempuan, karena kebetulan JP sedang mempersiapkan Training Media Meliput LGBT yang akhirnya terwujud akhir Mei kemarin.



Saskia Wieringa, Penulis The Crocodile Hole

Training diadakan di Chasakasa Garden Bistro, Kemang, cukup dekat karena masih di bilangan Jakarta Selatan. Banyak teman-teman yang datang dari redaksi nasional dan ada satu dari redaksi kampus selain aku. Sedikit cerita kami tidak sengaja duduk bersebelahan dan saat training penulisan dimulai, semua membuka laptop dan kaget sekali aku saat lihat sebelahku pakai walpaper PMII! Haha. Ternyata namanya Ikhfal dari Cirebon dan kami langsung berteman dekat seperti sahabat (sahabati) yang sudah pernah bertemu lama.



Kembali ke training, setelah penjabaran materi kami langsung praktik dengan mencari konten berita tidak ramah LGBT dan menuliskan ulang bagaimana berita tersebut seharusnya dituliskan. Tidak sulit untuk ditemukan karena semua media kita sangat bias dan ini membuatku kembali memikirkan bagaimana bisa-bisanya media menyediakan informasi yang tidak berimbang? Media notabenenya merupakan sumber informasi utama bahkan satu-satunya untuk sebagian orang, dan segala konotasi negatif serta berat sebelah mengenai LGBT pasti tercerna oleh pembaca media tersebut.

LGBT gangguan mental dan harus di-ruqyah? Mereka hanya segelintir orang hypersex penyebar HIV? Ah ayolah, sudah banyak informasi di luar sana. Media kita memang tidak bisa diandalkan dalam hal keakuratan, maka dari itu pembaca perlu mencari informasi lain agar berimbang serta tidak menelan mentah-mentah informasi dari satu sisi saja.

Sunday, June 14, 2015

Behind The Screen Seminar Perdana

Berkembang di Jurnal Perempuan membuat aku dan Lisa ingin sekali mengadakan, setidaknya satu kali saja, seminar atau diskusi gender-related yang memang jarang sekali diadakan di fakultas. Sempat pesimis awalnya karena BEM saat ini dipegang oleh hijau-hitam, khawatir juga akan beberapa omongan teman-teman seoraganisasi perihal menyukseskan masa jabatan lawan, dituduh proyekan, sampai beberapa hal remeh temeh lainnya yang membuatku takut untuk memulai. Ah, how could I tell I'm only willing to learn without them having the wrong idea. But as time passes, syukurlah, kami berhasil mendapat izin baik dari ketua BEM maupun ketum organisasi.


Setelah sibuk dengan persiapan materi dan mengantongi perizinan, kami mengatur jadwal bertemu beberapa mantan presiden kampus, Kak Hilman dan Kak Khairi, untuk mendapatkan saran mengenai pendanaan mengingat kami sedang tidak memegang sistem dan tidak bisa mengandalkan anggaran kampus. Oh iya, Kak Hilman saat ini sedang menjadi BPH di FKMB, organisasi paguyuban Betawi dan sebagai terima kasih, aku dan Lisa mengikuti pengkaderan karena kebetulan memang punya darah Betawi. Anyway, aku sekarang menulis di sekretariat FKMB dan ini bukan pertama kalinya aku menginap di sini. Bingung juga kalau diingat organisasi yang tidak sengaja diikuti sekarang malah menjadi seperti rumah kedua. Haha.


Kembali lagi ke persiapan, aku meminta tolong Kak Elwi yang bekerja di Komnas Perempuan untuk menghubungi Kak Mia sebagai perwakilan KP, sementara di waktu yang sama aku bertemu perwakilan Ibu Melani untuk menyerahkan tor. Lalu tentu saja kami bertemu dengan producer PWAG, Kak Olin, untuk mendapatkan izin akses film Masih Ada Asa yang akan digunakan untuk screening sekaligus membahas rundown acara. Kantor PWAG ternyata masih satu lokasi dengan Pamflet dan change.org, dan mereka juga sangat welcome sekali jika ada teman-teman yang ingin mengadakan acara di kampusnya.


D-day yang ditunggu dan juga dikhawatirkan akhirnya tiba. Tidak sempurna, banyak sekali kekurangan yang terjadi di segala hal karena kekurangpengalaman kami sebagai pelaksana acara. Ah, tidak puas dan kecewa rasanya, aku tahu kami bisa lebih baik ini. Aku berpesan kepada diriku sendiri untuk menjadikan ini sebagai pembelajaran, yang perlu untuk dibenahi jika aku mendapatkan kesempatan seperti ini lagi di lain waktu. Semoga saja.

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...