Sunday, April 25, 2021

Orientalisme Edward Said

 Sejarah humanisme di Eropa bertitik mula dari tradisi dan ajaran gereja Katolik di abad ke 15 M kemudian Revolusi Perancis pada abad ke 18 M dengan semboyan yang terkenal yaitu Liberte, Egalite, Fraternite atau kebebasan, kesetaraan, persaudaraan. Semboyan ini menjadi domain humanisme universal. Humanisme sendiri berarti pandangan untuk meletakkan manusia dan kemanusiaan di atas segala-galanya.

Seiring pergembangan dunia, pemiliran mengenai Humanisme juga turut berkembang. Humanisme Eksistensial yang dipopulerkan Jean Paul Sartre menganggap "neraka" (yang dimaksud sebagai sikap dominasi dan intimidasi menurut Sartre) menyebabkan ketakutan dan penderitaan. Bagi Sarte, itu bahkan bisa terjadi melalui tatapan tajam dan sinis seseorang. "Neraka" dalam hal ini berkaitan dengan sikap dominasi dan intimidasi yang dilakukan oleh satu orang yang superior kepada orang lain.

Konsep dengan core gagasan yang sama dalam bentuk berbeda juga dikemukakan oleh Edward Said. Edward Said menggunakan perspektif yang ia sebut "Orientalisme" yang dapat diartikan sebagai bagaimana Barat (sebagai subjek) memandang Timur sebagai objek. Seringkali Timur dipandang sebagai tempat yang eksotik dan lain sebagainya. Perspektif orientalisme ini tidak terlepas dari catatan sejarah Barat yang pernah mengkolonisasi Timur dengan berbagai tujuan, dan sikap dominasi serta intimidasi yang Barat lakukan selama berabad-abad.

Said, berusaha untuk merepresentasikan Timur sebagai subjek, tidak lagi sebagai objek. Dalam artian, Timur yang ke-Timur-an dan tidak dimaknai sebagaimana cara pandang orang-orang Barat terhadap Timur.

Dalam bukunya, Orientalisme, Said mengajak untuk membangun dan resistensi dan kesadaran mengenai sosok Barat sebagai subjek superior, dan Timur hanyalah sosok inferior yang dipenuhi perang saudara dan fanatisme agama. Menurutnya, hal ini menyebabkan hilangnya rasa empatik dan toleransi, serta dehumanisasi.

Thursday, April 1, 2021

Anarkisme

Secara esensi, “anarki” adalah sebuah kondisi dari individual atau kelompok yang tidak menganggap kekuatan otoritas. “Anarkisme” adalah pola pikir atau sebuah filosofi politik yang mendukung konsep masyarakat tanpa kedudukan sosial: sekelompok masyarakat yang mengatur badan pemerintahannya sendiri secara sukarela. Secara spesifiknya, badan pemerintahan dalam masyarakat anarkis tidak mempunyai hierarki sehingga tidak ada kata “pemimpin”, “bawahan”, atau apapun itu di dalam badan pemerintahan masyarakat anarkis; hanya mereka yang mau secara sukarela mengatur politik di kelompok masyarakat itu.

Hanya saja, di dalam sejarah, masyarakat anarkis telah gagal berkali-kali dalam mewujudkan mimpi indah yang menghilangkan perbedaan kelas ini, dan kegagalannya cukup menghancurkan (dengan contohnya, revolusi Prancis yang dapat diperdebatkan sebagai suatu revolusi yang baik serta buruk untuk masyarakat Prancis itu sendiri. Contoh lain juga dapat dilihat di Somalia pada tahun 1991 sampai 2006, yang dapat juga diperdebatkan sebagai suatu sistem buruk karena pembajakan laut yang merajalela). Tidak hanya itu, karena anarkisme dianggap sebagai lawan dari kapitalisme dan berkaitan erat dengan Marxisme, komunisme, dan merupakan contoh politik kiri yang radikal, banyak propaganda yang menjahanamkan anarkisme—terutama ketika perang dingin berlangsung.

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...