Half of the year have gone and I'm glad I've been doing things I love and met new people I could learn from and also tried new things. I’ll post things I've been doing recently here soon hopefully I haven’t forget too many details yet. I hope the remaining months would be as nice as ones that have gone by.
Think like a thief, solve like a detective. Bukan praktisi maupun pakar, hanya orang aneh yang suka mengulik hingga akar.
Saturday, May 30, 2015
Sunday, May 24, 2015
Filsafat Mahatma Gandhi
Politik tanpa kekerasan, adalah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan filsafat Mohandas Karamchand Gandhi, seorang penganut Hindu yang sangat concern terhadap diskriminasi berdasarkan warna kulit. Sebelum menyelami lebih dalam bagaimana pemikiran Gandhi, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial historis India yang melandasi pemikirannya. Gandhi lahir pada tahun 1869, saat India masih berada di bawah naungan Inggris. Ayah adalah seorang Perdana Menteri, dan ibunya merupakan penganut Waisnawa yang taat. Dengan background keluarga seperti ini, Gandhi tumbuh didampingi nilai-nilai Hindu, seperti menjadi vegetarian, nir-kekerasan (ahimsa), dan juga praktek berpuasa. Gandhi kecil merupakan sosok pendiam namun cemerlang. Setelah ia menuntaskan kuliah ilmu hukum di Inggris, ia kembali ke India dan menjadi pengacara. Karirnya sebagai pengacara tidak begitu mulus, dan ia berhenti dari pekerjaannya begitu mendapat tawaran untuk menangani permasalahan hukum di Afrika Selatan.
Sesampainya di Afrika Selatan, Gandhi pergi ke Pengadilan Durban untuk melaksanakan pekerjaannya, tetapi ia tidak dipersilakan masuk karena enggan melepaskan surban. Perlakuan seperti ini tidak hanya menimpa Gandhi satu kali, pernah Gandhi diminta pindah dari tempat duduk kereta api kelas satu hanya karena terdapat orang kulit putih yang tidak kebagian tempat. Singkatnya, orang-orang non kulit putih termarjinalkan. Dari sini lah Gandhi mulai membatin ingin menghapuskan segala bentuk diskriminasi dengan mengkoordinir pemberontakan, salah satunya adalah pemberontakan Zulu pada 1906 yang mengakibatkan banyak korban luka. Lalu pada 1906, pemerintah mengumumkan peraturan yang merendahkan kaum India di Afrika Selatan yang dikenal dengan Undang-undang Hitam, mereka harus mempunyai suatu sertifikat yang wajib dibawa kemanapun jika mereka tidak mau kehilangan rumah, deportasi, atau dipenjara. Hal ini sontak menyulut emosi Gandhi, di bawah pimpinannya orang-orang India menyatakan protes. Mereka memilih dihukum penjara alih-alih deportasi dan denda, karena melakukan dua hal yang terakhir sama saja dengan mengakui pemerintah. Ini adalah cikal bakal satyagraha. Spirit satyagraha bertambah kuat setelah pemerintah menerapkan peraturan imigrasi baru dan pernikahan non Kristen tidaklah sah.
Setelah 21 tahun di Afrika Selatan, pada 1915 Gandhi akhirnya kembali ke India. Ia mendirikan Ashram, berkhotbah pada masyarakat India untuk senantiasa mengatakan kebenaran, berpegang pada prinsip nir-kekerasan, ahimsa, mengendalikan makan, dan swadeshi. Perjuangan perdana Gandhi di India adalah melawan para tuan tanah yang kerap kali meminta pungutan liar terhadap petani pribumi pada 1917. Aksi tersebut kemudian sukses dan menginspirasi gerakan-gerakan satyagraha lainnya.
RUU Rowlatt yang akhirnya diterapkan pada 1919,berisikan kebijakan yang menindas gerakan nasionalis India, sesekali gerakan satyagraha justru berubah menjadi aksi kekerasan. Insiden kekerasan ini pernah menelan 400 jiwa dan membuat Inggris semakin menekan gerakan nasional. Beriringan dengan semakin geramnya Inggris, gerakan satyagraha juga semakin panas. Masyarakat India mulai memboikot barang dan jasa produksi Inggris. Sampai akhirnya Gandhi dipenjarakan selama 6 tahun karena dituduh menyebarkan hasutan. Setelah Gandhi dibebaskan, persoalan India yang tadinya hanya berkisar di masalah pemerintahan, malah semakin parah dengan konflik penganut dua agama terbesar di India, Hindu dan Islam. Di sisi lain, Partai Kongres terus berusaha merealisasikan kemerdekaan India. Fase paling dramatis adalah gerakan satyagraha ketika Gandhi dan 78 pendukungnya menolak pemungutan pajak garam yang diberlakukan Inggris. Mereka mengadakan long march ke Dandi selama 24 hari. Dan sesampainya di sana, mereka mengaktualisasikan niatnya dengan membuat garam sendiri di pesisir pantai Dandi. Aksi ini merupakan alasan mengapa penjara India dibanjiri oleh aktivis satyagraha.
Setelah dibebaskan, Gandhi lalu mengikuti Konferensi Meja Bundar di London yang tidak menghasilkan keputusan apa-apa. Saat dia kembali ke India, tepatnya pada tahun 1942, ia memobilisasi resolusi yang menuntut Inggris meninggalkan India. Aksi ini pun menghantarkannya lagi untuk mendekam di penjara. Saat Gandhi di penjara, gerakan separatis Muslim berulah menuntut pemisahan negara. Hal ini lantas mengguncang keharmonisan antara Hindu dan Muslim. Walaupun Gandhi bersikeras menentang pemisahan negara dan pembentukan Pakistan, pemisahan akhirnya tetap terjadi. Pasca pemisahan masih terjadi permusuhan antara Muslim dan Hindu. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Gandi berupaya berpuasa sampai mati untuk menebus kesalahan dirinya dan sesamanya. Hasil dari puasa Gandhi luar biasa, dua penganut agama yang tadinya cekcok mulai membangun keharmonisan kembali seiring berjalannya waktu. Namun terdapat oknum yang tidak menyukai perbuatan Gandhi, ia adalah Nathuram Godse, seorang Hindu fanatik, yang pesimis nantinya Islam akan mendominasi. Ia kemudian melakukan penembakan terhdap Gandhi pada 30 Januari 1948 yang mengakhiri hidupnya.[i]
Atas kontribusinya yang luar biasa dalam bidang kemanusiaan, seorang sastrawan besar India, Rabindranath Tagore, menyebut Gandhi sebagai Mahatma atau orang yang berjiwa besar (the great soul).
*Ahimsa secara umum diartikan sebagai tindakan tidak membunuh atau melukai makhluk hidup. Pengertian ahimsa sebagai suatu sarana berarti tidak mengenal kekerasan untuk mencapai kebenaran, baik dalam wujud pikiran, ucapan, maupun tindakan. Ahimsa harus menciptakan suasana membangun, cinta, dan berbuat baik kepada orang lain meskipun orang itu menyakitinya. Konsep ahimsa merupakan metode utama perjuangan Gandhi. Kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan, kekerasan baru akan selesai jika disandingkan dengan anti tesisnya, nir-kekerasan.
**Satyagraha berarti kebenaran yang dapat direalisasikan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Manusia dapat merealisasikan kebenaran hidup jika mampu mengendalikan 6 rintangan dalam etika India; hawa nafsu, rasa marah, keserakahan, kebirahian, kesombongan, dan kepalsuan.
*** Swadeshi adalah cinta tanah air. Ini meliputi pengabdian kepada keluarga, masyarakat, desa, dan kemanusiaan. Pelaksanaan swadeshi meliputi pembelian keperluan dari dalam negeri dan tidak membeli barang-barang import.
________________________________________________________
Paper ini disampaikan pada diskusi Gerakan Restorasi Pemuda Indonesia (GRPI), 2015.
Thursday, May 14, 2015
Hoarders and Decluttering!
Postingan kali ini akan me jadi lebih seperti diary.
Maybe I should start it with “Dear Diary…”
Kemarin (aku mengatakan kemarin karena sekarang hari telah berganti) terjadi lagi drama dalam keluargaku. Bukan drama sehari-hari seperti pertempuran antara abang pertama, kedua, dan aku yang ibarat anjing, kucing, dan tikus. Drama kali ini jauh lebih, um, tragis.
Apakah itu?
Mama hilang T_T
Bagaimana bisa?
Semua bermula ketika abang yang pertama melakukan invasi ke rumah. Sebelumnya pada awal tahun dia memberi tahu ada kabar gembira untuk kita semua, abang ku yang pertama naik jabatan. Aku tidak tau dia menjabat sebagai apa sekarang tetapi ada hubungannya dengan entah kelurahan, kecamatan, atau apapun di mana rumahku berada. Suatu saat, abang yang pertama dan koleganya melewati daerah rumah kami. Koleganya mengomentari bagaimana rumah di daerah kami yang tidak sesuai prosedur lingkungan, tidak sehat, selokan tertutup aspal, tidak ada pohon, dan semacamnya. Mendengar itu, abangku memutuskan we need to start it within ourselves alias ayo semua bersih-bersih dan buang semua barang-barang di rumah selain yang esensial.
Nah, yang tinggal di rumah ada aku, mama, dan abangku yang kedua serta istrinya. Aku hanya berkutat dengan semua barang-barangku selama 1 hari. Aku merelakan segala komik, baju-baju tak terpakai, dan lukisan-lukisan mahakarya yang menurutku bagus tapi orang lain tidak untuk dibuang. Abangku yang kedua belum mulai beres-beres dikarenakan sibuk, dan mama, mama tidak membuang seluruh barang-barangnya.
Perlu diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas penuhnya rumah kami adalah barang-barang mama. Segala pakaian, barang pecah belah, dan panci yang sudah tidak dipakai entah mengapa masih bertengger dengan manis di rumah.
Aku pun jengkel, dan menumpahkan kejengkelanku melalui curhat dengan abang kedua. Jam 9 malam saat aku kembali ke kamar, aku heran tidak menemukan mama dimanapun. Mungkin ke warung, pikirku, tapi mama tidak kunjung kembali.
Aku dan abang yang kedua kemudian berdeduksi dan menyimpulkan kalau mama mendengar percakapan kami dan memutuskan jalan-jalan untuk menenangkan diri. Abangku yang kedua mengatakan kalau hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya, tepatnya saat ia masih sekolah dan aku belum lahir, dan dengan persoalan yang sama pula, beres-beres rumah!
Untunglah mama pulang tidak terlalu lama sekitar jam 12 malam. Mama bercerita bagaimana hidupnya dulu susah untuk beli apapun, sehingga sekarang ia sangat bersyukur namun secara tidak sadar memiliki kecenderungan sentimental terhadap barang-barang dan akhirnya berkontribusi pada rumah kami yang amat berantakan. Aku merasa sangat bersalah saat mendengar itu. Aku dan kedua abangku terlampau muak dengan kondisi rumah yang kacau balau sehingga tidak sadar sudah melukai perasaan mama.
Aku tersenyum pahit saat menulis ini. Semua orang di keluargaku memang sangat batu. Kami sering kali terlampau keras memaksakan kehendak ke satu sama lain dan menutup telinga dengan pendapat yang lain. Tetapi tentu setiap rumah memiliki dramanya sendiri dan ini hanyalah satu permasalahan di keluargaku yang pasti akan berlalu seiring waktu. Tidak sabar menanti apakah rumahku akan menjadi rapi suatu saat nanti, atau malah menjadi seperti tv series Hoaders: Burried Alive. We’ll see!
Sunday, May 3, 2015
Simbolisme Dan Brown — Apotheosis
Aku baru saja selesai membaca The Lost Symbol, novel thriller karangan Dan Brown dengan tebal lebih dari 500 halaman. Di novel ini, ada satu kata yang muncul cukup banyak, yaitu apotheosis. Nah sebenarnya apakah apotheosis itu?
Apotheosis berasal dari kata Yunani “apo” yang berarti menjadi, dan “theos” yang berarti tuhan, sehingga secara harfiah apotheosis berarti perubahan yang bersifat ketuhanan.
Dan Brown membangun cerita dengan menarik benang merah antara ritual Freemason yang mempercayai apotheosis, dan sejarah berdirinya Amerika. Contohnya adalah lukisan dinding The Apotheosis of Washington seluas 433 meter persegi yang dibuat oleh Constantino Brumidi. Lukisan ini menggambarkan Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington yang sedang ditransformasikan menjadi dewa.
Setiap mitologi memiliki tradisi masing-masing mengenai apotheosis. Abracadabra! entah berapa orang yang mengetahui arti kata ini. Abracadabra memiliki kata asli Avrah Kadabra yang memiliki akar dalam mistisme Aramaik dan berarti “Ketika bicara, aku menciptakan.” Ini merupakan suatu bentuk apotheosis menurut interpretasi mistisme Aramaik.
Selain itu, banyak pula tradisi-tradisi yang memiliki makna serupa. Orang Hindu menyebut apotheosis sebagai Abad Kita, astrolog menyebutnya Abad Aquarius, Yahudi menyebutnya Mesias, dan teosofis menyebutnya New Age. Adanya kesamaan ini membuktikan impian manusia untuk menguakkan potensinya sehingga sama dengan tuhan.
Dalam konteks The Apotheosis of Washington, proses perubahannya menjadi dewa ditandai oleh serangkaian gambar dewa-dewa yang mengelilingi penemu besar Amerika. George Washington berada di tengah memakai jubah putih dan dikelilingi wanita-wanita, Dewi Minerva memberikan inspirasi teknologi kepada Ben Franklin, Robert Fulton, dan Samuel Morse. Dan ada juga Vulcan, Neptunus, serta Ceres. Dalam lukisan ini, apotheosis yang menjadikan George Washington dkk setara dengan dewa adalah pengetahuan. Memang terdengar berlebihan bagi manusia modern, tetapi jika kita kembali pada setting abad 18 ketika George Washington menjadi Presiden Amerika Serikat, wajar apabila pengetahuan yang dapat membuat manusia mampu menandingi kecepatan suara dan menapaki bulan, sudah dianggap mampu menyaingi tuhan.

Subscribe to:
Posts (Atom)
Kabinet Merah Putih 2024-2029
Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...
-
• Faksionalisasi Partai Islam Masyumi melahirkan Partai NU • Faksionalisasi Partai Golkar melahirkan PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem Pada ...
-
Pada 3 Agustus 2022, ketum Partai Nasdem, Surya Paloh mengumumkan Nasdem mengusung Anies Baswedan menjadi Capres dalam Pemilu 2024. Nasdem j...
-
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, sementara khalifah pertama adalah Abdullah Ash-Shaffah. Kekuasaan dinasti Abba...

