Thursday, May 14, 2015

Hoarders and Decluttering!

Postingan kali ini akan me jadi lebih seperti diary.
Maybe I should start it with “Dear Diary…”
Kemarin (aku mengatakan kemarin karena sekarang hari telah berganti) terjadi lagi drama dalam keluargaku. Bukan drama sehari-hari seperti pertempuran antara abang pertama, kedua, dan aku yang ibarat anjing, kucing, dan tikus. Drama kali ini jauh lebih, um, tragis.
Apakah itu?
Mama hilang T_T
Bagaimana bisa?
Semua bermula ketika abang yang pertama melakukan invasi ke rumah. Sebelumnya pada awal tahun dia memberi tahu ada kabar gembira untuk kita semua, abang ku yang pertama naik jabatan. Aku tidak tau dia menjabat sebagai apa sekarang tetapi ada hubungannya dengan entah kelurahan, kecamatan, atau apapun di mana rumahku berada. Suatu saat, abang yang pertama dan koleganya melewati daerah rumah kami. Koleganya mengomentari bagaimana rumah di daerah kami yang tidak sesuai prosedur lingkungan, tidak sehat, selokan tertutup aspal, tidak ada pohon, dan semacamnya. Mendengar itu, abangku memutuskan we need to start it within ourselves alias ayo semua bersih-bersih dan buang semua barang-barang di rumah selain yang esensial.
Nah, yang tinggal di rumah ada aku, mama, dan abangku yang kedua serta istrinya. Aku hanya berkutat dengan semua barang-barangku selama 1 hari. Aku merelakan segala komik, baju-baju tak terpakai, dan lukisan-lukisan mahakarya yang menurutku bagus tapi orang lain tidak untuk dibuang. Abangku yang kedua belum mulai beres-beres dikarenakan sibuk, dan mama, mama tidak membuang seluruh barang-barangnya.


Perlu diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas penuhnya rumah kami adalah barang-barang mama. Segala pakaian, barang pecah belah, dan panci yang sudah tidak dipakai entah mengapa masih bertengger dengan manis di rumah.
Aku pun jengkel, dan menumpahkan kejengkelanku  melalui curhat dengan abang kedua. Jam 9 malam saat aku kembali ke kamar, aku heran tidak menemukan mama dimanapun. Mungkin ke warung, pikirku, tapi mama tidak kunjung kembali.
Aku dan abang yang kedua kemudian berdeduksi dan menyimpulkan kalau mama mendengar percakapan kami dan memutuskan jalan-jalan untuk menenangkan diri. Abangku yang kedua mengatakan kalau hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya, tepatnya saat ia masih sekolah dan aku belum lahir, dan dengan persoalan yang sama pula, beres-beres rumah!
Untunglah mama pulang tidak terlalu lama sekitar jam 12 malam. Mama bercerita bagaimana hidupnya dulu susah untuk beli apapun, sehingga sekarang ia sangat bersyukur namun secara tidak sadar memiliki kecenderungan sentimental terhadap barang-barang dan akhirnya berkontribusi pada rumah kami yang amat berantakan. Aku merasa sangat bersalah saat mendengar itu. Aku dan kedua abangku terlampau muak dengan kondisi rumah yang kacau balau sehingga tidak sadar sudah melukai perasaan mama.
Aku tersenyum pahit saat menulis ini. Semua orang di keluargaku memang sangat batu. Kami sering kali terlampau keras memaksakan kehendak ke satu sama lain dan menutup telinga dengan pendapat yang lain. Tetapi tentu setiap rumah memiliki dramanya sendiri dan ini hanyalah satu permasalahan di keluargaku yang pasti akan berlalu seiring waktu. Tidak sabar menanti apakah rumahku akan menjadi rapi suatu saat nanti, atau malah menjadi seperti tv series Hoaders: Burried Alive. We’ll see!

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...