Michel Foucault adalah tokoh yang menaruh perhatian besar dalam bidang seksualitas. Foucault mengatakan sulit sekali mendefinisikan seksualitas dengan tepat, karena definisi seksualitas tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan dibentuk oleh suatu kondisi sosial. Hasil dari konstruksi sosial tersebut adalah ideologi gender. Ideologi gender adalah segala aturan yang mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan didefinisikan, serta diharapkan untuk berperilaku. Ideologi gender mendefinisikan bagaimana ‘seharusnya’ laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang mapan, tidak klemer-klemer, dan gentle. Sedangkan perempuan yang baik adalah perempuan yang ayu, lembut, penurut, bisa memasak, perawan sampai nikah, dan memuaskan di ranjang.
Ideologi gender kerap bersifat binary opposition, yang menempatkan laki-laki sebagai hal positif, dan perempuan yang menjadi negatif. Contoh sederhananya adalah perempuan yang mengekspresikan dirinya dengan mengenakan pakaian terbuka, dengan mudah mendapatkan cibiran “wanita nakal”, dan apabila ia memperoleh perlakuan tak senonoh, dia pula yang disalahkan karena berpakaian terlalu seksi. Seksualitas perempuan yang demikian berlangsung pada masyarakat falogosentris, di mana seksualitas perempuan dirumuskan bukan oleh perempuan, melainkan laki-laki. Laki-laki ibarat menjadi dokter yang memberi resep kepada perempuan bagaimana cara meredakan nyeri pms dan tips membesarkan payudara. Mereka merumuskan apa yang tidak mereka punya, tidak mereka tahu, dan tidak mereka alami. Dengan membiarkan orang lain merumuskan seksualitas perempuan tentu merugikan perempuan itu sendiri.
Seksualitas bersifat maskulin sehingga menciptakan istilah second sex yang ditujukan pada kaum perempuan. Perempuan adalah manusia kelas dua setelah laki-laki. Tidak dapat disangkal lagi hal ini mempengaruhi perempuan dalam menjalankan aktivitasnya, termasuk dalam urusan ranjang. Dalam aktivitas seksual ada peraturan tak tertulis yang menganjurkan perempuan menjadi pasif, dan memaksa laki-laki agar memegang kontrol. Laki-laki dominan, perempuan subordinatif. Ditambah lagi pemilihan diksi “menggagahi” juga “menjantani” semakin memperkuat kesan jika kodrat laki-laki lah untuk mendominasi, sementara perempuan hanya menerima.
Penjelasan seksualitas dan ideologi gender di atas cenderung menguntungkan laki-laki. Namun apakah hanya perempuan yang ditindas oleh konsep seksualitas dan ideologi gender? Bagaimana dengan laki-laki? Nyatanya, laki-laki malah justru dibebankan karena organ intim mereka dianggap menyimbolkan sifat maskulinitas yang agung. Kita bisa melihat langsung dari realitas sekitar, bagaimana perempuan dengan sifat manly atau tomboy lebih bisa diterima dibandingkan dengan laki-laki yang bersifat feminim. Bahkan perempuan dengan style tomboy dinilai wajar sementara laki-laki feminim dianggap mengalami degradasi gender.