• Faksionalisasi Partai Islam Masyumi melahirkan Partai NU
Think like a thief, solve like a detective. Bukan praktisi maupun pakar, hanya orang aneh yang suka mengulik hingga akar.
Monday, March 13, 2023
Rangkuman Faksionalisasi dan Dualisme Partai
Saturday, March 11, 2023
Buku Anis Matta: Gelombang Ketiga Indonesia (2014)
Ku seringkali kurang suka dengan politisi pekaes satu ini, tapi bukunya lumayan menarik juga. Berikut gambaran intinya.
Friday, March 10, 2023
Partai Gelora (Pecahan PKS)
Partai Gelora resmi jadi partai peserta Pemilu 2024 dalam proses pengundian yang digelar KPU pada 14 Desember 2022. Partai ini digawangi Anis Matta dan Fahri Hamzah, dan memperoleh nomor urut 7. Partai Gelora didirikan 28 Oktober 2019 oleh 99 orang dari 34 provinsi. Deklarasi partai dilakukan dalam acara konsolidasi nasional di Jakarta, 10 November 2019.
Setelah serangkaian proses pendaftaran dan verifikasi, pada 2 Juni 2020, Partai Gelora sah secara hukum dengan penyerahan SK Menkumham. Kini Gelora tercatat memiliki kepengurusan 34 DPW setingkat Provinsi, 445 DPD setingkat kabupaten/kota, dan 4.395 DPC setingkat kecamatan.
Gagasan pendirian bermula pada 3 Februari 2018 saat Anis Matta berpidato dalam acara Musyawarah Kerja Keluarga Alumni KAMMI. Anis Matta menyampaikan 3 gelombang yang dilalui bangsa Indonesia:
1. Menjadi Indonesia
2. Menjadi negara-bangsa yang kuat
3. Menjadi salah satu kekuatan utama dan bagian dari kepemimpinan dunia
Gelombang ini selalu dipengaruhi faktor global. Oleh karena itu, untuk melakukan lompatan jauh ke depan, maka Indonesia harus melakukan 3 hal:
1. Melakukan konsolidasi ideologi Islam dan negara tidak boleh lagi dipertentangkan.
2. Kekuatan utama bangsa yakni ilmu pengetahuan, kekuatan militer, ekonomi, kesejahteraan dan keadilan harus dibangun.
3. Indonesia harus membangun strategic partnership global, dan menjadi pioneer bukan follower.
Saat ini, Gelora diketuai oleh Anis Matta, wakil ketum Fahri Hamzah, sekjen Mahfuz Sidiq, bendum dan wakil Achmad Rilyadi dan Fetty Fatmasari Utami.
Thursday, March 9, 2023
Partai Kebangkitan Nusantara (Pecahan Demokrat)
Wednesday, March 8, 2023
Partai Ummat (Pecahan PAN)
Pada 2021, sejumlah pengurus Partai Ummat dikabarkan mengundurkan diri. Pertama kali adalah mundurnya waketum Agung Mozin pada Agustus 2021 yang menyampaikan surat pengunduran diri kepada Ketua Majelis Syuro Amien Rais, yang ditembuskan kepada ketum Ridho Rahadi yang juga merupakan menantu Amien Rais.
Kedua, pengunduran diri wakil ketua majelis syuro Neno Warisman karena ingin fokus mengurus anaknya yang berada di Turki. Selain kedua elite tersebut, beberapa pengurus daerah juga mundur di antaranya Ketua DPD Partai Ummat Cirebon Diyanto, Wakil Ketua DPD Partai Ummat Kota Depok Syahrial Chan, dan Sekretaris Umum DPD Partai Ummat Bengkulu Uwoh Pramijaya.
Pakar politik BRIN, Wasisto Raharjo Jati menganalisa mundurnya elite Partai Ummat.
1. Aksi eksodus yang dilakukan pengurus menunjukkan ada tendensi dinasti dalam pembentukan Partai Ummat menjadi semacam partai personal, apalagi mekanisme ketum yang merupakan menantu Amien Rais dilakukan secara aklamasi elitis daripada musyawarah mufakat.
2. Pudarnya karisma Amien Rais. Eksistensi Amien Rais hanya bergulir bila ada benturan muslim vs non muslim. Di luar itu, jarang muncul. Partai Ummat butuh rekognisi dan eksistensi jangka panjang. Kalau fungsionaris hanya dikenal pada isu tertentu makan bisa berdampak pada popularitas partai yang naik pada isu tertentu saja, sehingga tidak cukup kuat untuk menarik elektabilitas pemilih muslim sendiri.
3. Loyalis Amien Rais, Agung Mozin dan Neno Warisman pecah kongsi karena loyalitas yang dibangun hanya sebatas militansi yang sifatnya hanya jangka pendek. Terdapat narasi yang berbenturan dengan realita yang ada.
4. Partai Ummat kurang laku karena sosok Amien Rais yang dikenal sebagai free rider politik. Ia hanya naik pada momen krusial semisal dulu menjadi Ketua MPR karena menjadi salah satu tokoh Cipayung yang menginisiasi pertemuan lintas tokoh, setelahnya tidak ada lagi.
Tuesday, March 7, 2023
Note: Potensi Koalisi 2024
Pada 3 Agustus 2022, ketum Partai Nasdem, Surya Paloh mengumumkan Nasdem mengusung Anies Baswedan menjadi Capres dalam Pemilu 2024. Nasdem juga memberi otoritas kepada Anies Baswedan untuk memilih cawapres pendampingnya di Pemilu 2024.
Pakar politik UGM dan Presiden lembaga riset Indonesia Presidential Studies, Nyarwi Ahmad menyebut penetapan Anies Baswedan sebagai bakal Capres Nasdem adalah upaya menarik dukungan dari milenial dan generasi Z. Nasdem ingin memaksimalkan potensi coattail effect (efek ekor jas) dari elektoral Anies. Paling tidak ada 2 partai potensial dalam barisan koalisi Nasdem yaitu PKS dan Demokrat. Ini dapat menggoyahkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang beranggotakan Partai Golkar, PPP dan PAN).
Apalagi Ketum PPP Suharso Monoarfa baru dilengserkan dan diganti Mardiono. Golkar pun tidak lepas dari guncangan internal. Guncangan juga terjadi di tubuh Partai Nasdem yang terlebih dahulu mendeklarasikan capres. Sejumlah anggota partai dilaporkan mundur. Bali misalnya, Niluh Djelantik dan tokoh Puri Anom Tabanan, Anak Agung Ngurah Panji Astika. Survei SMRC terbaru juga mengindikasikan penurunan suara Nasdem di Indonesia timur dari 10,8% (Mei 2021) ke 3,9% (Agustus 2022). Curi start Partai Nasdem dan pembebasan cawapres kepada Anies Baswedan juga mempunyai implikasi politik ditinggalkan PKS dan Demokrat.
Kabinet Merah Putih 2024-2029
Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...
-
• Faksionalisasi Partai Islam Masyumi melahirkan Partai NU • Faksionalisasi Partai Golkar melahirkan PKPI, Hanura, Gerindra dan Nasdem Pada ...
-
Pada 3 Agustus 2022, ketum Partai Nasdem, Surya Paloh mengumumkan Nasdem mengusung Anies Baswedan menjadi Capres dalam Pemilu 2024. Nasdem j...
-
Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dinisbatkan kepada Al-Abbas, sementara khalifah pertama adalah Abdullah Ash-Shaffah. Kekuasaan dinasti Abba...