Pada 3 Agustus 2022, ketum Partai Nasdem, Surya Paloh mengumumkan Nasdem mengusung Anies Baswedan menjadi Capres dalam Pemilu 2024. Nasdem juga memberi otoritas kepada Anies Baswedan untuk memilih cawapres pendampingnya di Pemilu 2024.
Pakar politik UGM dan Presiden lembaga riset Indonesia Presidential Studies, Nyarwi Ahmad menyebut penetapan Anies Baswedan sebagai bakal Capres Nasdem adalah upaya menarik dukungan dari milenial dan generasi Z. Nasdem ingin memaksimalkan potensi coattail effect (efek ekor jas) dari elektoral Anies. Paling tidak ada 2 partai potensial dalam barisan koalisi Nasdem yaitu PKS dan Demokrat. Ini dapat menggoyahkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang beranggotakan Partai Golkar, PPP dan PAN).
Apalagi Ketum PPP Suharso Monoarfa baru dilengserkan dan diganti Mardiono. Golkar pun tidak lepas dari guncangan internal. Guncangan juga terjadi di tubuh Partai Nasdem yang terlebih dahulu mendeklarasikan capres. Sejumlah anggota partai dilaporkan mundur. Bali misalnya, Niluh Djelantik dan tokoh Puri Anom Tabanan, Anak Agung Ngurah Panji Astika. Survei SMRC terbaru juga mengindikasikan penurunan suara Nasdem di Indonesia timur dari 10,8% (Mei 2021) ke 3,9% (Agustus 2022). Curi start Partai Nasdem dan pembebasan cawapres kepada Anies Baswedan juga mempunyai implikasi politik ditinggalkan PKS dan Demokrat.
No comments:
Post a Comment