Thursday, February 19, 2015

Learning Feminism and Gender Studies

Setelah mendapat asupan vitamin B-enedict di film The Imitation Game, di hari yang sama pada 13 Februari aku dan Fini menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh Komunitas Sexual Research di UI, pembicaranya Rocky Gerung dan Zoya Amirin. Both of them are capable speakers! Tema seminar membicarakan tentang tubuh perempuan yang ditentukan dari determinasi orang lain, bukan oleh determinasi kita sendiri. Which is kinda true actually karena seringkali kita tidak punya kendali sepenuhnya pada diri sendiri seperti yang dipaparkan oleh Zoya Amirin melalui teori super ego, ego, dan id-nya Sigmund Freud dan mengkorelasikannyanya dengan tidak rasionalnya manusia saat jatuh cinta. We were born with human dignity, makanya jangan bingung kalau sedang jatuh cinta mengapa sering mau tapi gengsi. Hihi.
Anyway aku menghadiri seminar ini karena aku sendiri mulai tertarik dengan isu feminisme dan kebingungan harus memulainya darimana. Feminisme susah sekali dimengerti karena memiliki banyak sekali aliran dan sering sekali bertentangan antara satu dan lainnya. Satu yang aku yakin adalah semua aliran ini menentang ketidakadilan gender and all forms of patriarchy in general and it includes LGBT rights as well. Dari yang semulanya aku ingin belajar feminisme karena isu perempuan, sekarang melebarkan sayap menjadi learning gender studies. Gender studies menaungi feminism juga dan cakupannya lebih luas dibandingkan feminism. I hope I can be consistent in this.

The Imitation Game Movie

Bulan Februari ini aku masih libur kuliah. Membosankan sekali rasanya, akupun mengajak temanku, Fini, pergi menonton The Imitation Game. Oh tentu saja how could I miss such a great movie with my dearest Benedict Cumberbatch as the main cast?

Benedict sudah sangat melekat dalam diri Sherlock di benakku dan aku tak hentinya berpikir bahwa film ini seperti Sherlock yang screenplays sebagai Alan Turing. Terlebih karena banyak sekali scene di mana Alan Turing bertindak smartass nan arogan layaknya Sherlock. Anyway aku senang sekali semenjak pertama kali mendengar Benedict akan bermain peran dalam film ini mengingat dia sebelumnya sangat piawai memerankan tokoh jenius baik Sherlock maupun Stephen Hawking. Memang preferensi Benedict untuk menerima tawaran film biografi dan sejarah dan ku bangga dengan hal itu karena selain ber-fangirl ria, film semacam ini sangat edukatif dan menambah wawasan. Killing two birds with one stone, isn’t it? :p

Untuk filmnya sendiri sejujurnya, jika tidak ada Benedict sekalipun, aku masih akan memberi film ini rating 10/10. Film ini menceritakan tentang biografi Alan Turing, seorang profesor UK yang memiliki kontribusi besar dalam memenangkan Perang Dunia II dengan kemampuannya membongkar kode enigma Jerman. Enigma Jerman sangat sulit dipecahkan karena sudah dienkripsi agar tidak disadap dan tidak mudah diterjemahkan oleh orang yang tidak memiliki pengaturannya.  Terdapat jutaan kombinasi untuk memecahkan kode enigma dan semuanya harus dicoba satu persatu, dan jika berhasil dipecahkan sekali, pengaturan yang sama tidak akan berlaku untuk kode enigma yang lain karena pengaturan tersebut selalu berubah SETIAP HARI! Sangat memakan waktu dan sungguh-sungguh tidak mungkin dipecahkan secara manual hingga suatu hari Alan Turing sampai pada kesimpulan jika otak dilawan dengan otak, maka mesin (enigma) pun juga harus dilawan dengan mesin. Mesin pemecah enigma yang akhirnya berhasil dibuat oleh Alan Turing ini seringkali disebut sebagai pelopor terciptanya komputer digital yang sedang ku gunakan untuk menulis tulisan ini.
Alan Turing merupakan kunci kemenangan Perang Dunia II, tetapi oleh negaranya sendiri ia dibunuh secara tidak langsung. Alan Turing merupakan seorang homoseksual, yang di UK bahkan sampai detik ini masih dianggap immoral dan merupakan suatu pelanggaran hukum. Ia pun dikebiri dengan injeksi hormon dan memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri setahun setelah itu. Part ini sangat heartbreaking dan membuatku sedikit banyak berempati kepada teman-teman gay di luar sana. Sepertinya kata 'sulit' tidak bisa menggambarkan rasanya dikucilkan dan dianggap pendosa, dan aku yakin bahwa bukan Alan Turing saja yang berupaya bunuh diri karena dunia ini tidak menerimanya.
I do hope the world gets better for them, they're still human afterall.

Tuesday, February 17, 2015

PKD PMII KOMFISIP 2015

Pelatihan Kader Dasar atau PKD adalah pengkaderan formal tingkat kedua dari organisasi PMII. PKD PMII KOMFISIP berlangsung selama 4 hari dari tanggal 16 sampai 19 Januari dan berlokasi di sebuah pesantren di kawasan Depok. PKD biasa diselenggarakan 4 sampai 6 bulan setelah MAPABA dan dapat diikuti oleh sahabat-sahabati maksimal semester 7.
Umumnya teman-teman yang ikut adalah mahasiswa semester 5, tapi karena tahun lalu sedikit yang ikut PKD, maka ada beberapa mahasiswa semester 7, walau lebih banyak teman-teman semester 7 yang memutuskan tidak ikut PKD dan berpuas diri sampai tingkat MAPABA saja.
Aku tidak ikut sebagai peserta, melainkan menjadi juru masak. Berbeda dengan MAPABA, PKD sangat serius, panitia dan peserta tidak diperkenankan berkomunikasi, dan rundown acaranya juga jauh lebih padat.
Peserta tau hari-hari esok akan berat, makanya sebelum berangkat, mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin. Kami semua berkumpul di PMII Cabang Ciputat. Para peserta ada yang seperti penyanyi gagal audisi, mengumandangkan lagu-lagu PMII seperti kaset rusak. Ada pula yang mondar-mandir mencari peci hitam dan celana training.
Lucu sekali melihat bagaimana senior-senior yang biasanya keren itu berubah menjadi anak-anak playgroup dalam waktu semalam.

2015 So Far

Tahun 2015 telah berjalan selama 47 hari. Saat menjalani tahun hampir tidak diketahui apa arti dari sebuah detik. Satu detik bagai tidak memiliki nilai, dan baru memiliki nilai apabila detik itu terakumulasi, menjadi menit, jam, hari, dan minggu. Ini terjadi padaku dan itu benar-benar menakutkan!
Akhir-akhir ini aku menderita writer’s block, yang membuatku menjadi tidak produktif. Niat, kemauan, dan ambisi yang aku miliki hilang mendadak. Rasanya aku seperti mayat yang tidak punya kekuatan sekedar untuk memohon jangan dikubur. Sebuah perumpamaan yang aneh, Albert Camus benar-benar telah memberiku banyak kosakata baru.
Anyway, postingan ini aku buat sebagai lanjutan postingan sebelumnya. I’ll make a back up about my January. Aku merencanakan menghabiskan bulan pertama hanya untuk keep in touch dan hangout bersama teman-teman. Tulisan ini tidak akan panjang, karena satu-satunya hal yang terjadi di Januari dan layak untuk kutuliskan disini adalah mengenai Pelatihan Kader Dasar PMII KOMFISIP, cerita mengenai ulang tahunku telah aku tulis di postingan sebelumnya. Aku sedang menulis mengenai PKD dan akan aku posting segera.

Sunday, February 1, 2015

Why I Don’t Like Celebrating My Birthday

Ulang tahun sering dimaknai sebagai moment bertambahnya usia pada tanggal (dan bulan) kita dilahirkan. Peristiwa annual ini sering diikuti dengan perayaan atau pesta. Mari kita mulai dengan sederet pertanyaan seperti apa yang spesial dari ulang tahun? Bukankah kita semakin tua setiap waktu? Lantas mengapa orang-orang sering merayakannya?
Ya, sebenarnya tidak ada yang spesial dari ulang tahun sehingga harus dirayakan. Justru karena semakin bertambahnya waktu, kita semakin dekat pula dengan akhir kehidupan. Dan apabila setiap orang membenahi pandangannya sendiri dengan memaknai ulang tahun sebagai fenomena pengurangan usia, bukannya pertambahan usia, apakah tidak merasa konyol jika melihat hal itu sering dirayakan dengan party, cake, suasana gembira, dan tetek bengek pesta lainnya?
31 Januari ini aku ganjil genap berusia 19 tahun. Ini merupakan ulang tahunku yang paling plain, no cake, no surprise, no party. Semua sama seperti biasa, aku tidur pada pukul 6, bangun pada pukul 10, bahkan suara ayam berkokok di pagi buta masih terdengar sama. Liburan membuatku lupa tanggal, dan apabila keponakanku pada hari sebelumnya tidak berkoar-koar menyebalkan kalau besok aku ulang tahun, I think I will forget my birthday.
Benar-benar biasa saja, aku bahkan tidak mempost sesuatu di social media to get people attention, berharap mendapat ucapan ulang tahun dan sebagainya, atau update path berharap semua orang akan memberi emoticon love seperti yang kerap ku lakukan sebelum-sebelumnya. Aku malah lebih memilih tenggelam dalam renungan tentang apa saja sudah aku perbuat selama berusia 18.
Jika ada sesuatu yang spesial dari ulang tahun, itu adalah birthday wishes. Apabila kau tidak mempublikasi ulang tahunmu, orang-orang yang mengucapkan birthday wishes pada hari itu, tidak diragukan lagi adalah orang-orang spesial.
Aku mendapat ucapan dari guru SMP favoritku di facebook, Pak Dang Herry. Walaupun di facebook, aku terkesan dia masih mengingatku dari ratusan murid yang dia ajar, apalagi aku telah lulus 5 tahun lalu. Beliau adalah orang tertinggi yang pernah aku ingat, guru pembimbing KIR, ekstrakurikuler yang aku ikuti dulu. He’s one of the people who I admirer the most, aku tidak pernah melewatkan kesempatan berbicara dengannya. Aku bangga padanya, and I dare to say, he is proud of me too. Pada saat pengambilan rapor, ia bahkan mengatakan pada abangku “Ini Putri, murid kebanggan saya.” Dia menjadi wali kelas 9-5 atau 9-6, sementara aku ditempatkan di 9-3, dan lucunya dia memaksa wali kelasku agar aku dipindahkan ke kelasnya. Well, cukup flashbacknya.
Anyway, aku memperhatikan birthday wishes untukku tahun ini berkurang, walaupun begitu, semua datang dari teman-teman akrabku yang bisa dihitung jari. Aku senang, bukan karena birthday wishes mereka, melainkan karena mereka mengingat hal kecil dariku, seperti ulang tahun.

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...