Bulan Februari ini aku masih libur kuliah. Membosankan sekali rasanya, akupun mengajak temanku, Fini, pergi menonton The Imitation Game. Oh tentu saja how could I miss such a great movie with my dearest Benedict Cumberbatch as the main cast?
Benedict sudah sangat melekat dalam diri Sherlock di benakku dan aku tak hentinya berpikir bahwa film ini seperti Sherlock yang screenplays sebagai Alan Turing. Terlebih karena banyak sekali scene di mana Alan Turing bertindak smartass nan arogan layaknya Sherlock. Anyway aku senang sekali semenjak pertama kali mendengar Benedict akan bermain peran dalam film ini mengingat dia sebelumnya sangat piawai memerankan tokoh jenius baik Sherlock maupun Stephen Hawking. Memang preferensi Benedict untuk menerima tawaran film biografi dan sejarah dan ku bangga dengan hal itu karena selain ber-fangirl ria, film semacam ini sangat edukatif dan menambah wawasan. Killing two birds with one stone, isn’t it? :p

Untuk filmnya sendiri sejujurnya, jika tidak ada Benedict sekalipun, aku masih akan memberi film ini rating 10/10. Film ini menceritakan tentang biografi Alan Turing, seorang profesor UK yang memiliki kontribusi besar dalam memenangkan Perang Dunia II dengan kemampuannya membongkar kode enigma Jerman. Enigma Jerman sangat sulit dipecahkan karena sudah dienkripsi agar tidak disadap dan tidak mudah diterjemahkan oleh orang yang tidak memiliki pengaturannya. Terdapat jutaan kombinasi untuk memecahkan kode enigma dan semuanya harus dicoba satu persatu, dan jika berhasil dipecahkan sekali, pengaturan yang sama tidak akan berlaku untuk kode enigma yang lain karena pengaturan tersebut selalu berubah SETIAP HARI! Sangat memakan waktu dan sungguh-sungguh tidak mungkin dipecahkan secara manual hingga suatu hari Alan Turing sampai pada kesimpulan jika otak dilawan dengan otak, maka mesin (enigma) pun juga harus dilawan dengan mesin. Mesin pemecah enigma yang akhirnya berhasil dibuat oleh Alan Turing ini seringkali disebut sebagai pelopor terciptanya komputer digital yang sedang ku gunakan untuk menulis tulisan ini.
Alan Turing merupakan kunci kemenangan Perang Dunia II, tetapi oleh negaranya sendiri ia dibunuh secara tidak langsung. Alan Turing merupakan seorang homoseksual, yang di UK bahkan sampai detik ini masih dianggap immoral dan merupakan suatu pelanggaran hukum. Ia pun dikebiri dengan injeksi hormon dan memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri setahun setelah itu. Part ini sangat heartbreaking dan membuatku sedikit banyak berempati kepada teman-teman gay di luar sana. Sepertinya kata 'sulit' tidak bisa menggambarkan rasanya dikucilkan dan dianggap pendosa, dan aku yakin bahwa bukan Alan Turing saja yang berupaya bunuh diri karena dunia ini tidak menerimanya.
I do hope the world gets better for them, they're still human afterall.

No comments:
Post a Comment