Ulang tahun sering dimaknai sebagai moment bertambahnya usia pada tanggal (dan bulan) kita dilahirkan. Peristiwa annual ini sering diikuti dengan perayaan atau pesta. Mari kita mulai dengan sederet pertanyaan seperti apa yang spesial dari ulang tahun? Bukankah kita semakin tua setiap waktu? Lantas mengapa orang-orang sering merayakannya?
Ya, sebenarnya tidak ada yang spesial dari ulang tahun sehingga harus dirayakan. Justru karena semakin bertambahnya waktu, kita semakin dekat pula dengan akhir kehidupan. Dan apabila setiap orang membenahi pandangannya sendiri dengan memaknai ulang tahun sebagai fenomena pengurangan usia, bukannya pertambahan usia, apakah tidak merasa konyol jika melihat hal itu sering dirayakan dengan party, cake, suasana gembira, dan tetek bengek pesta lainnya?
31 Januari ini aku ganjil genap berusia 19 tahun. Ini merupakan ulang tahunku yang paling plain, no cake, no surprise, no party. Semua sama seperti biasa, aku tidur pada pukul 6, bangun pada pukul 10, bahkan suara ayam berkokok di pagi buta masih terdengar sama. Liburan membuatku lupa tanggal, dan apabila keponakanku pada hari sebelumnya tidak berkoar-koar menyebalkan kalau besok aku ulang tahun, I think I will forget my birthday.
Benar-benar biasa saja, aku bahkan tidak mempost sesuatu di social media to get people attention, berharap mendapat ucapan ulang tahun dan sebagainya, atau update path berharap semua orang akan memberi emoticon love seperti yang kerap ku lakukan sebelum-sebelumnya. Aku malah lebih memilih tenggelam dalam renungan tentang apa saja sudah aku perbuat selama berusia 18.
Jika ada sesuatu yang spesial dari ulang tahun, itu adalah birthday wishes. Apabila kau tidak mempublikasi ulang tahunmu, orang-orang yang mengucapkan birthday wishes pada hari itu, tidak diragukan lagi adalah orang-orang spesial.
Aku mendapat ucapan dari guru SMP favoritku di facebook, Pak Dang Herry. Walaupun di facebook, aku terkesan dia masih mengingatku dari ratusan murid yang dia ajar, apalagi aku telah lulus 5 tahun lalu. Beliau adalah orang tertinggi yang pernah aku ingat, guru pembimbing KIR, ekstrakurikuler yang aku ikuti dulu. He’s one of the people who I admirer the most, aku tidak pernah melewatkan kesempatan berbicara dengannya. Aku bangga padanya, and I dare to say, he is proud of me too. Pada saat pengambilan rapor, ia bahkan mengatakan pada abangku “Ini Putri, murid kebanggan saya.” Dia menjadi wali kelas 9-5 atau 9-6, sementara aku ditempatkan di 9-3, dan lucunya dia memaksa wali kelasku agar aku dipindahkan ke kelasnya. Well, cukup flashbacknya.
Anyway, aku memperhatikan birthday wishes untukku tahun ini berkurang, walaupun begitu, semua datang dari teman-teman akrabku yang bisa dihitung jari. Aku senang, bukan karena birthday wishes mereka, melainkan karena mereka mengingat hal kecil dariku, seperti ulang tahun.
No comments:
Post a Comment