Politik tanpa kekerasan, adalah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan filsafat Mohandas Karamchand Gandhi, seorang penganut Hindu yang sangat concern terhadap diskriminasi berdasarkan warna kulit. Sebelum menyelami lebih dalam bagaimana pemikiran Gandhi, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial historis India yang melandasi pemikirannya. Gandhi lahir pada tahun 1869, saat India masih berada di bawah naungan Inggris. Ayah adalah seorang Perdana Menteri, dan ibunya merupakan penganut Waisnawa yang taat. Dengan background keluarga seperti ini, Gandhi tumbuh didampingi nilai-nilai Hindu, seperti menjadi vegetarian, nir-kekerasan (ahimsa), dan juga praktek berpuasa. Gandhi kecil merupakan sosok pendiam namun cemerlang. Setelah ia menuntaskan kuliah ilmu hukum di Inggris, ia kembali ke India dan menjadi pengacara. Karirnya sebagai pengacara tidak begitu mulus, dan ia berhenti dari pekerjaannya begitu mendapat tawaran untuk menangani permasalahan hukum di Afrika Selatan.
Sesampainya di Afrika Selatan, Gandhi pergi ke Pengadilan Durban untuk melaksanakan pekerjaannya, tetapi ia tidak dipersilakan masuk karena enggan melepaskan surban. Perlakuan seperti ini tidak hanya menimpa Gandhi satu kali, pernah Gandhi diminta pindah dari tempat duduk kereta api kelas satu hanya karena terdapat orang kulit putih yang tidak kebagian tempat. Singkatnya, orang-orang non kulit putih termarjinalkan. Dari sini lah Gandhi mulai membatin ingin menghapuskan segala bentuk diskriminasi dengan mengkoordinir pemberontakan, salah satunya adalah pemberontakan Zulu pada 1906 yang mengakibatkan banyak korban luka. Lalu pada 1906, pemerintah mengumumkan peraturan yang merendahkan kaum India di Afrika Selatan yang dikenal dengan Undang-undang Hitam, mereka harus mempunyai suatu sertifikat yang wajib dibawa kemanapun jika mereka tidak mau kehilangan rumah, deportasi, atau dipenjara. Hal ini sontak menyulut emosi Gandhi, di bawah pimpinannya orang-orang India menyatakan protes. Mereka memilih dihukum penjara alih-alih deportasi dan denda, karena melakukan dua hal yang terakhir sama saja dengan mengakui pemerintah. Ini adalah cikal bakal satyagraha. Spirit satyagraha bertambah kuat setelah pemerintah menerapkan peraturan imigrasi baru dan pernikahan non Kristen tidaklah sah.
Setelah 21 tahun di Afrika Selatan, pada 1915 Gandhi akhirnya kembali ke India. Ia mendirikan Ashram, berkhotbah pada masyarakat India untuk senantiasa mengatakan kebenaran, berpegang pada prinsip nir-kekerasan, ahimsa, mengendalikan makan, dan swadeshi. Perjuangan perdana Gandhi di India adalah melawan para tuan tanah yang kerap kali meminta pungutan liar terhadap petani pribumi pada 1917. Aksi tersebut kemudian sukses dan menginspirasi gerakan-gerakan satyagraha lainnya.
RUU Rowlatt yang akhirnya diterapkan pada 1919,berisikan kebijakan yang menindas gerakan nasionalis India, sesekali gerakan satyagraha justru berubah menjadi aksi kekerasan. Insiden kekerasan ini pernah menelan 400 jiwa dan membuat Inggris semakin menekan gerakan nasional. Beriringan dengan semakin geramnya Inggris, gerakan satyagraha juga semakin panas. Masyarakat India mulai memboikot barang dan jasa produksi Inggris. Sampai akhirnya Gandhi dipenjarakan selama 6 tahun karena dituduh menyebarkan hasutan. Setelah Gandhi dibebaskan, persoalan India yang tadinya hanya berkisar di masalah pemerintahan, malah semakin parah dengan konflik penganut dua agama terbesar di India, Hindu dan Islam. Di sisi lain, Partai Kongres terus berusaha merealisasikan kemerdekaan India. Fase paling dramatis adalah gerakan satyagraha ketika Gandhi dan 78 pendukungnya menolak pemungutan pajak garam yang diberlakukan Inggris. Mereka mengadakan long march ke Dandi selama 24 hari. Dan sesampainya di sana, mereka mengaktualisasikan niatnya dengan membuat garam sendiri di pesisir pantai Dandi. Aksi ini merupakan alasan mengapa penjara India dibanjiri oleh aktivis satyagraha.
Setelah dibebaskan, Gandhi lalu mengikuti Konferensi Meja Bundar di London yang tidak menghasilkan keputusan apa-apa. Saat dia kembali ke India, tepatnya pada tahun 1942, ia memobilisasi resolusi yang menuntut Inggris meninggalkan India. Aksi ini pun menghantarkannya lagi untuk mendekam di penjara. Saat Gandhi di penjara, gerakan separatis Muslim berulah menuntut pemisahan negara. Hal ini lantas mengguncang keharmonisan antara Hindu dan Muslim. Walaupun Gandhi bersikeras menentang pemisahan negara dan pembentukan Pakistan, pemisahan akhirnya tetap terjadi. Pasca pemisahan masih terjadi permusuhan antara Muslim dan Hindu. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Gandi berupaya berpuasa sampai mati untuk menebus kesalahan dirinya dan sesamanya. Hasil dari puasa Gandhi luar biasa, dua penganut agama yang tadinya cekcok mulai membangun keharmonisan kembali seiring berjalannya waktu. Namun terdapat oknum yang tidak menyukai perbuatan Gandhi, ia adalah Nathuram Godse, seorang Hindu fanatik, yang pesimis nantinya Islam akan mendominasi. Ia kemudian melakukan penembakan terhdap Gandhi pada 30 Januari 1948 yang mengakhiri hidupnya.[i]
Atas kontribusinya yang luar biasa dalam bidang kemanusiaan, seorang sastrawan besar India, Rabindranath Tagore, menyebut Gandhi sebagai Mahatma atau orang yang berjiwa besar (the great soul).
*Ahimsa secara umum diartikan sebagai tindakan tidak membunuh atau melukai makhluk hidup. Pengertian ahimsa sebagai suatu sarana berarti tidak mengenal kekerasan untuk mencapai kebenaran, baik dalam wujud pikiran, ucapan, maupun tindakan. Ahimsa harus menciptakan suasana membangun, cinta, dan berbuat baik kepada orang lain meskipun orang itu menyakitinya. Konsep ahimsa merupakan metode utama perjuangan Gandhi. Kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan, kekerasan baru akan selesai jika disandingkan dengan anti tesisnya, nir-kekerasan.
**Satyagraha berarti kebenaran yang dapat direalisasikan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Manusia dapat merealisasikan kebenaran hidup jika mampu mengendalikan 6 rintangan dalam etika India; hawa nafsu, rasa marah, keserakahan, kebirahian, kesombongan, dan kepalsuan.
*** Swadeshi adalah cinta tanah air. Ini meliputi pengabdian kepada keluarga, masyarakat, desa, dan kemanusiaan. Pelaksanaan swadeshi meliputi pembelian keperluan dari dalam negeri dan tidak membeli barang-barang import.
________________________________________________________
Paper ini disampaikan pada diskusi Gerakan Restorasi Pemuda Indonesia (GRPI), 2015.
No comments:
Post a Comment