Monday, January 5, 2015

Can People With Different Political Views be Friends?

Dunia perpolitikan kampus semakin menggerogoti sendi persahabatan. Ketika seorang temanku bertanya apa kami akan masih sama lagi seperti sebelum pemilu raya, aku dengan santai menjawab tentu, jika kita telah berteman sebelum masuk ke organisasi, mengapa setelah kita masuk organisasi kita tak dapat berteman lagi? Walaupun kita menjadi kader dari organisasi yang berbeda dan saling berseteru. Hal itu tidak cukup menjadi alasan putusnya tali pertemanan kita. Setidaknya itulah yang jawabanku apabila ada yang menanyakan mengapa kami masih berteman sampai saat ini.
Mudah untuk berbicara, tetapi sulit untuk dijalankan. Idiom itu mencerminkan sulitnya mempertahankan teman, sulitnya mentoleransi perbedaan yang ada. Demokrasi akan selalu menghasilkan yang menang dan yang kalah. Dan kini, aku berada di pihak yang kedua. “Kita menang, namun dikalahkan oleh sistem.” Itulah yang berulang kali dikumandangkan teman-teman seorganisasiku. Pada awalnya aku sangat sedih, kecewa pada temenku yang beda organisasi karena berdiam diri melihat kenyataan yang dimanipulasi. Idealisme yang mereka miliki digadaikan dan ditukar demi sebuah kursi.
Waktu memang dengan seenaknya dapat memilah milih kenangan mana saja yang dapat kita ingat, dan mana yang dapat kita lupakan. Walaupun kita telah berambisi tidak akan melupakan suatu pengalaman pahit, waktu dapat mengikis rasa sakit, pahit, dan dendam itu dalam hitungan hari. Beberapa hari setelah diumumkannya hasil pemilu raya, aku telah bersikap seperti biasa dengan mereka, seakan pertengkaran kemarin tidak pernah terjadi. Rasa kecewa memang masih ada, apalagi ketika aku berkumpul dengan teman seorganisasi yang telah bekerja tanpa henti. Buah kemenangan aku kira selayaknya dipersembahkan kepada mereka. Namun politik tidak sesimple itu kawan, bermain fair bukanlah jaminan bagi kita untul memperoleh kemenangan. Ketika aku menulis ini, aku terbayang-bayang Niccolo Machiavelli yang pernah mengatakan etika dan politik adalah dua hal yang berbeda. Dalam berpolitik, penguasa tidak boleh mempertimbangkan apakah tindakannya etis atau tidak. Ia membenarkan segala cara yang dilakukan untuk tujuan merebut kekuasaan. Miris sekali, ketika mereka yang bukan Machiavellian ternyata mampu menerapkan filsafat Machiavelli dibanding aku yang telah lama mempelajarinya.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...