Terdapat banyak ideologi di dunia ini, seperti liberalisme, nasionalisme, kapitalisme, marxisme dan sosialisme. Namun sebelum membahas ideologi dengan lebih mendalam kita harus memahami apa yang dimaksud dengan ideologi. Menurut Antoine Destutt de Tracy (1754-1836) yang merupakan pencetus pertama ideologi, memaknai ideologi sebagai kritik dari dogma-dogma agama dan otoritas politik yang absolut di Perancis saat itu.
Tracy mengharapkan bahwa ideologi menjadi cabang ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk menemukan hukum-hukum yang melandasi pembentukan serta perkembangan ide-ide dalam masyarakat, sehingga ide-ide tersebut dapat dijelaskan secara rasional, bukan hanya berdasarkan otoritas agama. Dari kacamata sejarah ilmu, yang dilakukan de Tracy jelas merupakan bagian dari proyek besar para filsuf Pencerahan, terutama Francis Bacon (1561-1626), yang berusaha mensterilkan pengetahuan dari prasangka agama, kepentingan pribadi, dan kepercayaan mistik. Bacon berpandangan bahwa dalam upaya mendapat pengetahuan, orang-orang sering mulai dari rasionalisasi yang kurang kuat. Untuk terhindar dari ini, Bacon mengatakan orang harus melepaskan diri dari godaan ideologi. Dalam konteks ini Bacon adalah anti-idola, pemikirannya dianut dalam filsafat abad ke-17 dan 18.
Dengan memasuki ranah politik, term ideologi menjadi semakin kompleks. Konotasi negatif diberikan oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821) yang memerintah Perancis dikarenakan kudeta pada tahun 1799. Napoleon memerintah secara lalim sehingga tidak jarang ia mendapat pertentangan dari kawan-kawannya. Napoleon menyebut mereka sebagai "ideologist" yang bermakna tidak bagus. Dalam pandangan Napoleon, ideologist adalah intelektual-intelektual yang tidak realistis dan doktriner, mereka tidak paham praktik politik.
Kembali lagi pada konteks zaman Pencerahan, bila kita membahas gerakan Pencerahan di Abad ke-18, sudah semestinya kita membahas tokoh-tokoh materialis Perancis yang menjadi “dalang.” Tokoh penggerak Abad Pencerahan adalah Helvetius, Holbach, Voltaire, Rousseau, Montesquieu. Pasca Renaissance, dunia filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang amat sangat pesat. Materialisme Perancis merupakan pertarungan melawan institusi-institusi politik, agama, teologi yang telah berkuasa selama ratusan tahun lamanya. Helvetius (1715-1771) memahami dan mengamalkan materialisme dalam kehidupan sosial. Kualitas indrawi, cinta diri, kegemaran pribadi sebagai basis-basis moralitas. Materialisme berkecambah bersama kualitas alamiah kecerdasan manusia; kemajuan tenaga produktif dari ilmu pengetahuan dan industri. Helvetius berpendapat bahwa agama adalah sumber segala takhayul dan kebodohan. Ia percaya bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah panca indera, karena itu manusia harusnya berpegang pada fakta-fakta, bukan agama. Tidak berbeda jauh dengan Helvetius, Hollbach (1723-1789) menyatakan materi merupakan segalanya. Ia mengaitkan antara materialisme dan atheisme, dan ia memiliki pandangan agama yang sangat kritis. Ia juga menggabungkan materialisme Prancis dan Inggris dan mengembangkan inti moralitas yang telah diletakkan oleh materialisme Helvetius. Teori Hollbach dan Helvetius inilah yang sering disebut "tipuan kaum agamawan (priestly deccit).
No comments:
Post a Comment