Plato (428 SM) lahir dalam keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston dan ibunya Periktione. Plato mulai mengenal dan menjadi murid Socrates sejak ia masih anak-anak. Menurut Plato dalam Phaidon, Socrates adalah “orang paling baik, paling bijaksana, dan paling jujur.” Plato juga dipengaruhi oleh Kratylos, filsuf yang meneruskan ajaran Herakleitos. Kratylos berpendapat bahwa dunia kita berada dalam perubahan terus menerus, sehingga pengenalan tidak mungkin, karena suatu nama pun tidak dapat diberikan kepada benda-benda.
Kematian Socrates memadamkan ambisi politiknya dan membuatnya membenci sistem demokrasi di Athena pada masa itu. Ia mendapat keyakinan bahwa satu-satunya pemecahan ialah menjadikan penguasa sebagai filsuf. Sesudah Socrates meninggal, Plato beserta teman-temannya menetap di Megara dengan murid Socrates yang bernama Eukleides.
Sesudah kembali dari Italia, Plato mendirikan sebuah sekolah bernama Akademia yang terinspirasi dari pahlawan Athena, Akademos. Banyak yang mengatakan bahwa Akademia merupakan sekolah yang pertama, tetapi hal itu tidak tepat, karena Sokrates mendirikan sekolah tidak lama sebelumnya. Sekolah Isokrates hanya mengajarkan retorika, sedangkan Akademia mengutamakan matematika dan ilmu pasti. Bahkan di atas pintu masuk Akademia berbunyi “Yang belum mempelajari matematika, jangan masuk.” Plato mengepalai Akademia selama 40 tahun sampai pada kematiannya. Pada saat meninggal, karangannya yang bernema Nomoi belum selesai. Cicero mengatakan “Plato scribens est mortuus,” yang berarti “Plato meninggal ketika sedang menulis.”
Plato mengekspresikan pemikirannya melalui dialog-dialog yang mana Socrates menjadi pemeran utamanya, tidak seperti filosof lain yang kebanyakan menggambarkan dengan narasi.
Menurut Plato, realitas terdiri dari 2 dunia, dunia jasmani yang dapat dirasakan panca indra, dan dunia ide dimana segala hal konkret berasal. Pandangan Plato inilah yang dikenal sebagai dualisme-nya.
No comments:
Post a Comment