Socrates lahir di Athena, ayahnya, Sophroniskos, merupakan tukang pembuat patung, sedangkan ibunya, Phinarete, adalah seorang bidan. Pada mulanya, Socrates mau menuruti jejak ayahnya membuat patung, tetapi ia berganti haluan menjadi pembentuk watak manusia. Raut muka Socrates tidak tampan, dalam dialog Plato yang berjudul Symposion, seorang anak muda membandingkan Socrates dengan Satyros, tokoh mitologi yunani yang setengah binatang dan setengah manusia. Sepanjang hari Socrates berada di pasar, dan bercakap-cakap dengan banyak orang termasuk kaum sophis untuk mencari siapa yang lebih bijaksana daripada dia, karena ia tidak mempercayai pernyataan dewata di Delphoi bahwa Socrates lah orang paling bijaksana lah di Athena. Hingga Socrates menarik kesimpulan bahwa alasan mengapa ia dianggap bijaksana, karena ia menyadari bahwa ia tidak bijaksana. Metode bertanya Socrates ia sebut maieutike tekhne (metode kebidanan), di mana ia membidani pengetahuan yang terdapat dalam jiwa orang lain.
Dua murid Socrates, Xenophone dan Plato, banyak menulis tentang Socrates. Pembelaan Xenophones terhadap Socrates telalu hebat, Socrates tidak mungkin dihukum mati apabila dia memang seperti itu. Sedangkan dalam tulisan Plato, Socrates hanya berperan sebagai penyambung lidah pendapat Plato sendiri.
Pemikiran Socrates diantaranya adalah kebenaran objektif, ia membantah argumen kaum sophis bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada. Menurut Xenophone, ia bertanya kepada setiap orang, ia menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban lebih lanjut ia menarik kesimpulan. Jika hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain dan begitu seterusnya. Seperti contohnyaa pertanyaan apakah kursi itu? Kita menemukan kursi hakim, kursi malas, dari kedua kursi itu terdapat persamaan (1) tempat duduk (2) sandaran. Sehingga kita tidak perlu mengatakan pada tukang kursi untuk membuatkan kita kursi yang ada tempat duduk dan sandarannya. Sokrates menanyai setiap orang, termasuk kaum sophis, tidak jarang kaum sophis dibuat kewalahan karenanya dan menjadi musuhnya.
Socrates tidak pernah memberi wejangan tentang urusan publik dikarenakan selalu ada “suara ilahi” yang melarangnya tapi tak pernah memerintahnya melakukan apa yang ia ingin lakukan. Inilah yang mencegahnya menjadi politisi. Socrates juga tidak menganut teori tentang negara yang dikemukakan oleh sophis waktu itu, tetapi ia meneruskan prinsip etikanya dalam bidang politik. Menurutnya tugas negara ialah memajukan kebahagiaan warga negara dan membuat jiwa mereka menjadi sebaik mungkin. Karena alasan itu dia tidak menyetujui demokrasi di Athena , di mana pemegang kekuasaan ditentukan dengan undian.
Pada tahun 399, Socrates diajukan ke pengadilan rakyat dengan dua tuduhan. Tuduhan pertama bahwa ia meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan mengemukakan dewa baru, dan yang kedua ia dianggap menyesatkan kaum muda. Para penuntut Socrates adalah Anytus, seorang politisi demokrat, Meletus, seorang penyair tragedi, dan Lykon, ahli pidato yang tidak menonjol. Socrates mengusulkan hukuman denda uang 30 Minae yang malah membuat hakim merasa dilecehkan dan menjatuhkan hukuman mati padanya. Plato menuliskan pembelaan Socrates dalam dialog berjudul Apology. Dalam pengadilan itu, Socrates dinyatakan bersalah dengan mayoritas 60 suara, 280 lawan 220. Biasanya hukuman mati dilaksanakan dalam tenggang waktu 12 jam. Akan tetapi saat itu perahu layar keramat Athena sedang berlayar dan menurut tradisi, hukuman mati baru boleh dijalankan setelah perahu itu kembali. Socrates pun menghabiskan satu bulan terakhir hidupnya dengan murid dan teman-temannya. Ia menolak segala bujukan teman-temannya untuk melarikan diri, dan ia meminum racunnya dengan tenang dan dengan air muka yang jernih.
No comments:
Post a Comment