Wednesday, November 26, 2014

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII)

Dalam proses transsmisi gerakan Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia melalui para aktivis dakwah Tarbiyah, Salafi dan Hibut Tahrir, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Muhammad Natsir memegang peran yang sangat penting. DDII sendiri merupakan transformasi dari Masyumi. DDII menjadi salah satu sarana alternatif bagi kalangan Masyumi setelah merasa gagal berdakwah lewat politik-kepartaian. Kegagalan ini ditandai oleh dibubarkannya Masyumi serta dipenjarakannya para tokoh sentral dari partai Islam ini, menyusul tuduhan keterlibatan mereka dalam pemberontakkan PRRI/Permesta yang dukung oleh CIA. Kegagalan lainnya adalah dengan ditolaknya pemberlakuan Piagam Jakarta pada sidang Konstituante pada 1959 yang berarti bahwa lebih dari separuh warga negara yang 90% muslim ini menolak pemberlakuan Syariat Islam. Berdasarkan alasan inilah, Muhammad Natsir dan para tokoh sejawatnya memilih untuk menepuh jalur lain. Setelah pembebasan mereka sebagai balas jasa atas kontribusi mereka mengantar Soeharto ke tampuk kekuasaan, para tokoh Masyumi ini kemudian mendirikan DDII pada 1967.

Ada beberapa andil DDII yang sangat menentukan proses transmisi ini. Pertama, DDII menjadi lembaga Islam pertama yang mengusahakan secara serius dan terorganisasi pengiriman mahasiswa ke Timur Tengah. Sebelum peran ini diambil alih oleh Departemen Agama, lembaga yang dipimpin Natsir ini menjadi agen utama untuk distribusi beasiswa dari Rabitah Alam Al-Islami yang disupport dana oleh Saudi Arabia untuk belajar di Timur Tengah. Untuk memudahkan hubungan dengan Saudi Arabia, DDII bahkan membuka kantor di Riyadh pada tahun 1970-an. Hingga tahun 2004, DDII telah mengirim sebanyak 500 mahasiswa ke Timur Tengah dan Pakistan. Para alumnus pendidikan Timur Tengah inilah yang menjadi aktor-aktor utama peyebaran gerakan revivalisme Islam di Indonesia, khususnya gerakan Tarbiyah dan Dakwah Salafi.

Kedua, DDII dan Muhammad Natsir juga menjadi penggagas serta mediator berdirinya Lembaga Ilmu Islam dan Arab (LIPIA) yang merupakan cabang Universitas Islam Muhammad Ibnu Sa’ud di Riyadh. Lembaga ini telah meluluskan ribuan alumni yang menjadi agen-agen gerakan Salafi serta aktor penting di kalangan gerakan Tarbiyah. Ketiga, DDII pula yang meletakkan landasan awal gerakan dakwah kampus dengan program Latihan Mujahid Dakwah di Masjid Salman ITB. Gerakan ini pada gilirannya menjadi embrio dari munculnya gerakan Tarbiyah (PKS), dan Hizbut Tahrir serta memberikan andil cukup besar bagi berkembangnya gerakan Salafi.

Selanjutnya, DDII juga berperan secara tidak langsung untuk mendorong penerjemahan karya-karya dari pemikir utama gerakan revivalisme Islam Timur Tengah ke dalam bahasa Indonesia. Jauh sebelum gerakan Islam baru ini eksis, lembaga ini telah aktif mendistribusikan buku-buku terjemahan karya Hassan Al-Banna, Yusuf Al-Qardawi (Ikhwanul Muslimin), Sayyid Qutb, salah seorang ideolog utama radikalisme Islam, dan Abul A’la Al-Maududi dari Pakistan.

DDII menerapkan tiga target utama aktivitas dakwahnya: pesantren, masjid, dan kampus. Selain mendirikan pesantren modern Gontor dan Ngruki, DDII juga mengelola bantuan hibah untuk pendirian masjid dari Timur Tengah. Masjid-masjid ini kemudian dikelola oleh aktivis DDII dan berkembang menjadi basis penyebaran dakwahnya.


Sumber: M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, (Jakarta: Erlangga, 2005).

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...