Setelah Rasulullah
SAW wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awal (3 Juni 632M), mulai terjadi
pembangkangan oleh kaum muslimin seperti tidak mau membayar zakat dan
meninggalkan shalat. Persoalan ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh
para sahabat. Mereka berdiskusi mengenai siapa yang akan menggantikan
kepemimpinan Rasulullah SAW. Akhirnya terpilihlah Abu Bakar As-Shiddiq menjadi
Khalifah pertama melalui syuro yang diadakan di Saqifah. Abu Bakar dipilih karena
kesenioran dan kelemahlembutannya. Pada pemerintahan Abu Bakar, terdapat
beberapa peristiwa penting seperti pemberantasan pembangkang zakat, perang
rida’, pemberantasan nabi palsu, ekspansi wilayah Islam ke Irak dan Syams, dan
juga pengumpulan Al-Qur’an yang diusulkan oleh Umar r.a.
Khalifah kedua
adalah Umar ibn Khatab. Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya melalui
wasiat. Umar, mendapat julukan Al-Faruq (pemisah antara yang bnar dan bathil)
yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Pada masa kepemimpinan Umar banyak terjadi
ekspansi wilayah sehingga kekuasaan Islam seketika
sudah meliputi jazirah Arab, Palestina, Syiria, dan sebagian
besar kota Persia dan Mesir.
Umar, juga merupakan orang pertama yang memerintahkan untuk memperluas dan
merenovasi Masjidil Haram serta Masjid Nabawi. Umar gencar melakukan
pembangunan Masjid dan madrasah, serta membangun Bait al-Mal sebagai lembaga
perekonomian. Umar dibunuh oleh Abu Lu’luah, namun sebelum ia meninggal, ia
berpesan agar pemilihan khalifah selanjutnya dilakukan dengan bermusyawarah,
yang menghasilkan terpilihnya Utsman bin Affan.
Dahulu, Utsman
dipercaya Nabi untuk menjadi walikota Madinah. Pada masa kekhalifahan Utsman,
banyak penduduk yang kecewa karena perilaku nepotismenya. Tetapi, Utsman juga
berjasa besar. Ia menjadi khalifah pertama yang memperluas Masjidil Haram dan
Nabawi. Ia juga yang mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam
satu mushaf. Utsman meninggal karena dibunuh oleh pemberontak ketika sedang
membaca Al-Qur’an, hal ini membenarkan pernyataan Nabi tentang kematian Utsman
yang syahid.
Ali bin Abu Thalib menjadi
khalifah ketika keadaan runyam atas kematian Utsman. Beberapa orang dituduh
membunuh Utsman baik secara langsung maupun tidak langsung dan Muawiyah menuduh
Ali ikut serta. Mulanya, Ali membantah untuk dibaiat, ia menunjuk Zubair dan
Thalhah. Saat pemerintahan Ali, terjadi banyak pergolakan. Diantaranya adalah
Perang Jamal, dan Perang Siffin. Ali memecat beberapa gubernur yang diangkat
oleh Utsman. Ali meninggal karena pukulan pedang beracun oleh Abdurrahman ibn
Maljam.
Dari kisah keempat
sahabat, dapat disimpulkan bahwa era Islam pasca wafatnya Rasulullah dihiasi
oleh pertumpahan darah. Sejarah Islam sangat berkaitan dengan peristiwa
politik. Masing-masing khalifah memiliki ciri khas, kelebihan, dan kekurangannya
sendiri. Pemilihan khalifah-pun menjadi masalah runyam, karena dengan
meninggalnya Rasulullah, otoritas wahyu terputus. Akibatnya, terjadi
aliran-aliran dalam teologi Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, dan hanya ada 1 golongan yang benar
yang disebut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Kaum muslim dengan ijtihad akalnya
berlomba-lomba menjadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Oleh karena itu, dengan adanya aliran-aliran yang semakin
banyak seiring bertambahnya waktu, seharusnya kita mampu menempatkan diri dan
berpikir kritis dengan belajar melalui sejarah Islam.
No comments:
Post a Comment