Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Keberhasilannya memperoleh legalitas kekuasaan dalam perang Siffin dicapai melalui cara yang curang. Muawiyah juga dituduh sebagai penghianat prinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena dialah yang mengubah pimpinan negara dari seorang yang dipilih rakyat mejadi turun-temurun. Kesalahannya yang mengkhianati prinsip pemilihan negara oleh rakyat, dapat dilupakan orang kaena jasa-jasa dan kebijakan politiknya yang mengagumkan.
Muawiyah dapat kursi kekhalifahan
setelah Hasan bin Ali bin Abi Thalib berdamai dengannya pada tahun 41 H. Hasan
menyadari kelemahannya sehingga ia menyerahkan kepemimpinan pada Muawiyah
dengan beberapa syarat, tahun itu dinamakan ‘amul jama’ah, tahun
persatuan. Muawiyah wafat pada tahun 60 H karena sakit dan digantikan oleh
anaknya, Yazid. Yazid tidak sekuat ayahnya dalam memerintah, banyak tantangan
yang dihadapinya seperti pemberontakan
kaum Syiah yang telah membaiat Husain sepeninggal Muawiyah. Terjadi perang di
Karbala yang menyebabkan terbunuhnya Husain dan dinding ka’bah runtuh
dikarenakan lemparan manjaniq, yang merupakan aib besar pada masa
pemerintahan Yazid. Yazid wafat pada tahun 64 H dan digantikan oleh anaknya,
Muawiyah II yang menyerah setelah kurang dari 40 hari, dengan ini habislah
riwayat keturunan Muawiyah.
Masa Bani Umayyah
dikenal sebagiai era agresif, yang mengutamakan perluasan wilayah dan penaklukkan.
Selain itu, Bani Umayyah juga berjasa dalam bidang politik maupun sosial budaya.
Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata cara pemerintahan yang sama
sekali baru. Untuk memenuhi perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan
yang semkalin kompleks, diangkat Majelis Penasihat sebagai pendamping khalifah
dan khalifah juga dibantu oleh beberapa orang sekretaris dalam pelaksanaan
tugas. Dalam bidang sosial budaya, Bani Umayyah membuka kontak antara
negara-negara Arab dengan negeri yang mereka taklukkan seperti Persia, Mesir,
Eropa, dan sebagainya. Hubungan ini menghasilkan kreativitas baru dalam seni
dan ilmu pengetahuan. Di seni pembangunan arsitektur, Bani Umayyah membangun Dome
of the Rock (Qubah Ash-Shakhra) di Yerussalem yang menjadi bangunan
terbaik. Selain itu, posisi ahli syair juga diberi kedudukan penting, hadiah
cukup besar, dan memuaskan. Pada masa itu pula Abdul Aswad Ad-Duali memberi
titik pada huruf hijaiyah sehingga mempermudah orang untuk mempelajari bahasa
arab.
Kemajuan dalam
bidang ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah antara lain perkembangan bahasa Arab dan dijadikannya bahasa Arab sebagai bahasa resmi pada pemerintahan yang
dulunya menggunakan bahasa Romawi atau Persia, dibangunnya kota Marbad sebagai
pusat kegiatan ilmu, berkembangnya ilmu qiraat, tafsir, hadis, fiqh, nahwu,
jughrafi dan tarikh (geografi), terdapat pula upaya penerjemahan buku-buku ilmu
pengetahuan ke bahasa arab.
Jika menyesuaikan
urutan sejarah adala beberapa latar belakang dari Bani Umayyah yang menghantarkannya pada masa kehancuran, seperti dengan diubahnya sistem pergantian
khalifah melalui garis keturunan yang pengaturannya tidak jelas sehingga
menyebabkan persaingan tidak sehat di kalangan anggota istana, kebiasaan hidup
mewah oleh anak-anak khalifah sehingga mereka tidak sanggup tatkala memikul
berat kenegaraan ketika menjadi khalifah, konflik politik yang dilakukan oleh
sisa-sisa Syiah dan Khawarij, dan yang terakhir dan terpenting yaitu munculnya
kekuatan baru oleh keturunan Al-Abbas yang didikung oleh Bani Hasyim dan Syiah
dan menjadi peradaban baru yakni Dinasti Abbasiyah.
No comments:
Post a Comment