Friday, March 14, 2014

Bani Umayyah (661-750 M)

         Dinasti Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb. Keberhasilannya memperoleh legalitas kekuasaan dalam perang Siffin dicapai melalui cara yang curang. Muawiyah juga dituduh sebagai penghianat prinsip demokrasi yang diajarkan Islam, karena dialah yang mengubah pimpinan negara dari seorang yang dipilih rakyat mejadi turun-temurun. Kesalahannya yang mengkhianati prinsip pemilihan negara oleh rakyat, dapat dilupakan orang kaena jasa-jasa dan kebijakan politiknya yang mengagumkan.

Muawiyah dapat kursi kekhalifahan setelah Hasan bin Ali bin Abi Thalib berdamai dengannya pada tahun 41 H. Hasan menyadari kelemahannya sehingga ia menyerahkan kepemimpinan pada Muawiyah dengan beberapa syarat, tahun itu dinamakan ‘amul jama’ah, tahun persatuan. Muawiyah wafat pada tahun 60 H karena sakit dan digantikan oleh anaknya, Yazid. Yazid tidak sekuat ayahnya dalam memerintah, banyak tantangan yang dihadapinya  seperti pemberontakan kaum Syiah yang telah membaiat Husain sepeninggal Muawiyah. Terjadi perang di Karbala yang menyebabkan terbunuhnya Husain dan dinding ka’bah runtuh dikarenakan lemparan manjaniq, yang merupakan aib besar pada masa pemerintahan Yazid. Yazid wafat pada tahun 64 H dan digantikan oleh anaknya, Muawiyah II yang menyerah setelah kurang dari 40 hari, dengan ini habislah riwayat keturunan Muawiyah.

Masa Bani Umayyah dikenal sebagiai era agresif, yang mengutamakan perluasan wilayah dan penaklukkan. Selain itu, Bani Umayyah juga berjasa dalam bidang politik maupun sosial budaya. Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata cara pemerintahan yang sama sekali baru. Untuk memenuhi perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semkalin kompleks, diangkat Majelis Penasihat sebagai pendamping khalifah dan khalifah juga dibantu oleh beberapa orang sekretaris dalam pelaksanaan tugas. Dalam bidang sosial budaya, Bani Umayyah membuka kontak antara negara-negara Arab dengan negeri yang mereka taklukkan seperti Persia, Mesir, Eropa, dan sebagainya. Hubungan ini menghasilkan kreativitas baru dalam seni dan ilmu pengetahuan. Di seni pembangunan arsitektur, Bani Umayyah membangun Dome of the Rock (Qubah Ash-Shakhra) di Yerussalem yang menjadi bangunan terbaik. Selain itu, posisi ahli syair juga diberi kedudukan penting, hadiah cukup besar, dan memuaskan. Pada masa itu pula Abdul Aswad Ad-Duali memberi titik pada huruf hijaiyah sehingga mempermudah orang untuk mempelajari bahasa arab.

Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah antara lain perkembangan bahasa Arab dan dijadikannya bahasa Arab sebagai bahasa resmi pada pemerintahan yang dulunya menggunakan bahasa Romawi atau Persia, dibangunnya kota Marbad sebagai pusat kegiatan ilmu, berkembangnya ilmu qiraat, tafsir, hadis, fiqh, nahwu, jughrafi dan tarikh (geografi), terdapat pula upaya penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan ke bahasa arab.

Jika menyesuaikan urutan sejarah adala beberapa latar belakang dari Bani Umayyah yang menghantarkannya pada masa kehancuran, seperti dengan diubahnya sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan yang pengaturannya tidak jelas sehingga menyebabkan persaingan tidak sehat di kalangan anggota istana, kebiasaan hidup mewah oleh anak-anak khalifah sehingga mereka tidak sanggup tatkala memikul berat kenegaraan ketika menjadi khalifah, konflik politik yang dilakukan oleh sisa-sisa Syiah dan Khawarij, dan yang terakhir dan terpenting yaitu munculnya kekuatan baru oleh keturunan Al-Abbas yang didikung oleh Bani Hasyim dan Syiah dan menjadi peradaban baru yakni Dinasti Abbasiyah.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...