Sunday, March 16, 2014

Aliran Teologi Islam

Dalam awal perkembangan ilmu kalam, terdapat tiga aliran besar berkaitan dengan definisi kafir pasca persoalan diangkatnya Ali menjadi Khalifah, yakni Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah. Golongan Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa besar sudah dikategorikan kafir. Murjiah menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin, dimaafkan atau tidaknya dosa besar itu adalah persoalan Allah. Mu’tazilah mengatakan orang berdosa besar bukan kafir namun bukan juga mukmin. Mereka berada di tengah-tengah atau almanzilah bain al-manzilitain.

Selain beberapa aliran di atas, terdapat pula dua aliran teologi yang terkenal yaitu jabariyah dan qadariyah. Aliran qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan dalam perbuatannya, atau free will free act. Aliran jabariyah berpendapat bahwa segala perbuatan manusia didasari atas paksaan Allah, yang dalam istilah Inggris disebut dengan predestination atau fatalism.

Selanjutnya, terdapat aliran Mu’tazilah yang dipengaruhi oleh masuknya ilmu pengetahuan Yunani ke daratan Arab. Mereka terpengaruh  pemakaian rasio atau akal yang kemudian mengambil corak teologi liberal. Walaupun mereka banyak menggunakan akal, tetapi mereka tidak meninggalkan wahyu. Kaum Mu’tazilah cenderung mengambil paham qadariyah. Menurut mereka, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu adalah wajib. Sebab jika tidak, orang demikian akan mendapat hukuman.

Aliran ini bermula pada pemerintahan Kerajaan Islam Abbasiah pada awal abad ke-9 Masehi. Pada tahun 827 M, Khalifah al-Ma’mun menjadikan teologi mutazilah sebagi mazhab resmi yang dianut negara. Karena telah mendapat legitimasi, kaum mutazilah mulai menyiarkan ajaran-ajaran mereka secara paksa sampai mendapat tantangan keras dari golongan tradisional Islam terutama golongan Hambali. Penyiaran mu’tazilah secara paksa berkurang setelah al-Ma’mun meninggal pada tahun 833 dan aliran ini dihentikan sebagai mahzab resmi oleh Khalifah al-Mutawwakil pada tahun 856. Mutazilah pun kembali pada kedudukan semula, tetapi mereka kini telah mempunyai lawan yang tidak sedikit, salah satunya oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (935 M). Dahulu ia merupakan seorang Mu’tazilah, sampai ia bertemu nabi Muhammad dalam mimpinya yang mencap Mu’tazilah adalah ajaran sesat. Al-Asyari kemudian membentuk ajaran baru yang dikenal dengan nama teologi al-Asy’ariah. Menurut mereka, segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu, bukan akal. Akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterima kasih padaNya. Aliran yang menentang Mu’tazilah juga timbul di Samarkand oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi, dengan teologinya yang bernama al-Maturidiah

Aliran-aliran di atas kebanyakan sudah tidak ada lagi, yang masih ada sampai sekarang ialah aliran asy’ariah dan maturidiah, dan keduanya disebut Ahl Sunnah wa al-Jamaah. Aliran Maturidiah banyak dianut oleh mazhab Hanafi, sedangkan aliran Asy’ariah dianut oleh golongan Sunni.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...