Friday, April 14, 2023

Wacana Koalisi Besar Pilpres 2024

Koalisi yang telah terdeklarasi sejauh ini:

1. Koalisi Indonesia Bersatu: Partai Golkar (Airlangga Hartarto), PAN (Zulkifli Hasan), PPP (Mardiono) -> Kecenderungan dukung Prabowo
2. Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya: Partai Gerindra (Prabowo Subianto) dan PKB (Muhaimin Iskandar) -> Dukung Prabowo
3. Koalisi Perubahan
Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS -> Dukung Anies Baswedan

Wacana pembuatan koalisi besar?

Sebagaimana yang dilansir dalam Nalar TV, semenjak 2 April 2023 terdapat wacana pembentukan koalisi besar dilihat dari banyaknya pertemuan antar petinggi partai. Misalnya seperti Partai Gerindra yang menerima kunjungan dari PAN dan PKB, dan dari luar koalisi ada Perindo (Hary Tanoesoedibjo) dan PBB (Yusril Ihza Mahendra). Sementara Golkar memberi sinyal welcome apabila PDIP gabung koalisi besar. Pertanyaannya, siapa yang akan diusung oleh koalisi besar ini? Apakah poros ini akan menjadi kendaraan politik bagi Prabowo, atau Ganjar?

Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan mengatakan ini semua tergantung dari sikap PDIP. Apakah PDIP akan bergabung dalam koalisi besar. Apabila tidak, kemungkinan yang diusung adalah Prabowo. Namun kita masih sulit memprediksi siapa yang akan menjadi Cawapres karena banyak bursa nama dalam KIB dan KIR, seperti Muhaimin Iskandar, Airlangga Hartarto, Ridwan Kamil, Erick Thohir, Khofifah, Zulkifli Hasan, Sandiaga Uno yang cenderung mendekati PPP. Ini yang membuat bursa Cawapres akan menjadi alot. Sementara kalau PDIP bergabung dalam koalisi besar, belum tentu Prabowo yang akan menjadi Presiden karena PDIP pasti memiliki nama Capres. Dalam hal ini, skenario yang kemungkinan terjadi dan berpotensi kuat adalah Ganjar, karena nama Puan sudah mulai jarang disebut.

Hasil survei LSI sendiri selama 31 Maret-4 April 2023, bursa Capres sebagai berikut:
1. Prabowo Subianto 30.3%
2. Ganjar Pranowo 26,9%
3. Anies Baswedan 25,3%

Ganjar memiliki potensi paling kuat. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa Prabowo bersedia menjadi Cawapres Ganjar? Kalau tidak bersedia, maka koalisi dapat bubar. Apabila posisi dibalik dan Ganjar menjadi Cawapres, pertanyaannya adalah bagaimana sikap partai lain (Golkar, PPP, PKB)? Apakah partai lain tidak kecewa, gagal mendapatkan posisi Cawapres? Potensinya koalisi bubar dan partai lain membentuk koalisi tersendiri. Banyak sekali sejumlah skenario yang akan terjadi.

Seberapa besar peluang PDIP masuk ke dalam koalisi besar?
Kalau elektabilitas Ganjar rebound, maka PDIP mungkin masuk ke koalisi besar dan mengajukan nama Ganjar sebagai Capres. Jika nama Ganjar tidak dapat menyaingi Prabowo lagi dan tidak rebound, maka belum tentu PDIP bergabung dalam koalisi besar. Karena kalau elektabilitas Prabowo lebih tinggi dari Ganjar, dan PDIP masuk ke dalam koalisi, maka kemungkinan Prabowo tidak mau menjadi Cawapres. Masih banyak sekali kemungkinan sehingga belum dapat diprediksi sekarang.

Selama ini, orang membaca dukungan Jokowi diberikan kepada Ganjar. Namun dalam kurun 4-5 bulan terakhir, Jokowi sudah mulai memberi dukungan kepada Prabowo. Ini bisa menjadi pesan bagi para pemilih Jokowi di 2019 dan 2024 kalau mereka memiliki alternatif, tidak hanya Ganjar.

Menurunnya elektabilitas Ganjar pada April 2023 tidak hanya semata-mata dukungan Jokowi terhadap Prabowo, tetapi juga karena Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Umumnya, yang kecewa adalah pendukung Jokowi, yang memiliki asosiatif positif dengan Ganjar. Gagalnya Indonesia menjadi tuan rumah tidak terlepas dari penolakan terhadap timnas Israel dimana mayoritas kader yang dengan tegas menolak Israel, didominasi oleh kader PDIP salah satunya Ganjar.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...