Sunday, June 15, 2014

Turki Usmani

Kerajaan Turki Usmani telah berlangsung lebih dari enam abad (1299-1924 M). Dalam perkembangannya, Turki Usmani melewati tiga puluh sembilan periode kepemimpinan. Sejak berdiri tahun 1299 M yang dipimpin oleh Usman I (1299-1326 M) dan berakhir dengan Mahmud II (1918-1922 M). Pada abad 13 M, Jhengis Khan mengusir orang Turki dari Khurasan. Kakek Utsman yaitu Sulaeman bermukim di Asia kecil bersama pengikut-pengikutnya. Mereka menyebrangi Sungai Efrat tetapi kapal Sulaeman tenggelam. Empat anak Sulaeman berhasil selamat dan dua di antaranya, Al Tughril dan Dundar, membantu Sultan Saljuk berperang melawan Bizantium. Al Tughril meninggal pada 1289 dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya, Utsman.

Pada periode awal, Kerajaan Turki Usmani dipimpin oleh seorang Sultan yang juga merupakan seorang Khalifah. Raja Usmani memiliki kekuasaan memerintah negara dan juga menyiarkan Islam. Kemudian pada pertengahan abad ke-19 (1839-1876 M), terjadi gerakan pembaharuan atau tanzimat yang paling berpengaruh pada masa Sultan Mahmud II (1808-1839 M). Sultan Mahmud II merupakan Sultan pertama yang mengadakan perbedaan tegas antara urusan agama dan dunia. Pada masa ini banyak masuk nilai-nilai Barat. Khalifah selanjutnya yaitu Sultan Abdul Majid pun mengumumkan tidak ada lagi perbedaan antara orang Eropa dan Islam di mata hukum. Selanjutnya pada tahun 1942 M, Mustafa Kemal Attaturk membentuk Republik Turki Sekuler. Lalu ia menghapuskan institusi keagamaan dalam pemerintahan serta meniadakan hukum-hukum syaria't. Persoalan agama dipisahkan dari persoalan negara, penulisan yang tadinya menggunakan Arab diubah menjadi alfabet, dan adzan pun diubah ke dalam bahasa Turki.

Masalah apakah sebaiknya agama dipisahkan dari negara juga perdah diperdebatkan di Indonesia. Tepatnya pada penghujung 1930-an, Ir. Soekarno yang menjagokan nasionalisme-sekularisme dan Mohammad Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Awal dari polemik ini adalah tulisan Soekarno "Apa Sebab Turki Memisah Agama dan Negara" dengan merujuk pada Turki Muda. Soekarno berpendapat bahwa agama ialah urusan individual dan pemisahan ini perlu untuk menyelamatkan Indonesia yang beraneka ragam.

Turki yang sekarang tidak seperti dahulu. Sejak Recep Tayyeb Erdogan menjadi Perdana Menteri, Turki mulai mengadopsi dan menerima nilai-nilai Islam. Berbeda sekali dengan Turki pada kepemimpinan Kemal Attaturk yang mengharamkan segala unsur yang mencerminkan Islam. Parlemen Turki sekarang memperbolehkan anggotanya untuk mengenakan hijab, begitu pula para muslimah yang menetap di negeri mayoritas Muslim itu, walaupun konstitusi mereka tetap sekuler.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...