Tuesday, June 10, 2014

Dinasti Fatimiyah (Mesir)

Dinasti Fatimiyah (909-1171 M) merupakan satu-satunya Dinasti Syi'ah dalam Islam yang namanya dinisbatkan kepada putri nabi Muhammad SAW yaitu Fatimah al-Zahra. Dinasti ini dibangun atas keyakinan bahwa adanya Imamah sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW. Dinasti ini berasal dari Tunisia bertepatan ketika Dinasti Abbasiyah mulai melemah di Baghdad. Pusat kekuasaan dinasti ini dipindahkan dari Tunisia ke Mesir. Di masa Dinasti Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.

Proses pergantian kepemimpinan dinasti ini dilakukan berdasarkan keturunan, kekuasaan khalifah secara otomatis akan turun kepada putra mahkotanya. Khalifah pertamanya yaitu Sa'id bin al-Husayn al-Salmiyah atau Abaidillah al Mahdi (909-934 M). Ia merupakan khalifah yang cakap. Pada masa pemerintahan Al-Mahdi dihimpun berbagai persiapan seperti perlengkapan serta kekayaan untuk memperkuat dairah kekuasaannya dari perbatasan Mesir hingga sampai kepada peropinsi Fez di Maroko. Ia wafat pada tahun 934 M dan digantikan oleh anaknya Abu Al-Qasim (934-946 M) atau yang dikenal dengan Al-Qaim. Al-Qaim berhasil melakukan ekspansi ke Genoa dan wilayah sepanjang pantai Calabria, dan pada tahun yang sama ia mengerahkan pasukan ke Mesir namun dapat dikalahkan. Al-Qaim meninggal pada 946 M kemudian digantikan oleh Al-Mansur yang hanya berkuasa selama 7 tahun (946-952 M). Al-Mansur digantikan oleh Al-Mu'iz (952-975 M) yang berhasil melakukan ekspansi wilayah ke Maroko, Sycilia, Palestina dan Suriah Damaskus. Khalifah selanjutnya yaitu Al-Aziz (975-996 M) yang merupakan kunci dari puncak kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Ia memberi kebebasan setiap agama untuk berkembang dan bertanggung jawab atas melebarnya kekuasaan Fatimiyah ke seluruh Syria dan Mesopotamia.

Dinasti Fatimiyah memiliki kemajuan dalam berbagai bidang seperti tata pengolaan negara yang sistematis, penyebaran faham Syi'ah, meningkatnya toleransi beragama, berkembangnya ilmu pengetahuan oleh berbagai tokoh seperti al-Tamimi (ahli fisika dan kedokteran), al-Kindi (sejarah dan filsafat), serta semakin maju dalam bidang sosial dan ekonomi dengan dibangunnya perguruan tinggi dan rumah sakit.

Berbicara mengenai hubungan antara Indonesia dan Mesir, ternyata kedekatan Indonesia-Mesir telah berlangsung cukup lama. Dengan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, hubungan orang Indonesia dan Arab semakin dekat. Hal ini juga berdampak dengan masuknya Islam ke Indonesia. Indonesia dan Mesir juga memiliki latar sejarah yang mirip, seperti sama-sama bekas jajahan dan berpenduduk mayoritas Islam. Persoalan utama yang terjadi di Mesir belum lama ini adalah pergolakan masyarakat yang mendesak Presiden Husni Mubarak untuk mundur pada awal 2011. Mubarak sudah berkuasa 30 tahun sebagai presiden Mesir dan rakyat Mesir ingin ada perubahan kepemimpinan. Kondisi Mesir setelah lengsernya Hosni Mubarak hampir sama dengan Indonesia pasca Soeharto yang masih belum lepas dari sisa-sisa rezim lama.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...