Thursday, May 15, 2014

Agent of Change

Pernyataan “mahasiswa merupakan agen perubahan” bukan hanya bualan semata. Bila berkaca pada sejarah, mahasiswa memiliki peran penting atas tumbangnya rezim Soekarno (1966) dan runtuhnya hegemoni Orde Baru Soeharto (1998). Pergerakan mahasiswa identik dengan demonstrasi, yaitu suatu wujud aksi tatkala kebijakan negara dianggap menyimpang dan ketika pemerintahan dianggap berkhianat kepada rakyat. Berbeda dengan sekarang, pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 semata-mata ditujukan agar pemerintahan kembali bersih, konstitusi ditegakkan kembali sesuai dengan kepentingan rakyat, bukan untuk elite-elite politis. Kini, aksi-aksi yang diprakarsai mahasiswa sudah kehilangan esensinya dan tidak lagi mendapat simpati dari masyarakat, malah kerap kali mendapat kecaman karena dianggap membuat kerusuhan. Memang realita hari ini menunjukkan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa bukan lagi bermaksud menuntut perubahan atas nama rakyat, tetapi dikarenakan kepentingan kelompoknya, bahkan merupakan alat dari kelompok-kelompok politik yang sengaja membayar mahasiswa untuk berdemonstrasi seperti yang terjadi di Bengkulu akhir tahun lalu.

Jika dibandingkan, tujuan aksi mahasiswa dahulu dikarenakan untuk mempertahankan kemerdekaan, menyerukan suara rakyat, dan merupakan tuntutan demokrasi. Tetapi kini mahasiswa seolah tidak memiliki musuh, dan kalaupun punya, musuh itu ialah mahasiswa yang berbeda organisasi atau memiliki pandangan lain. Hal inilah membuat aksi mahasiswa dicap “membuat masalah” dan “tidak berguna”. Hemat penulis, mahasiswa kini sekiranya dapat digolongkan menjadi dua. Pertama, yaitu mahasiswa aktivis yang erat dengan sebutan demonstran yang tak bisa tinggal diam dalam membenahi bangsa. Kedua, yaitu mahasiswa yang tak acuh terhadap problematika bangsa, sebagian dari mereka hanya memfokuskan diri pada bagaimana mendapatkan title sarjana tanpa menenggelamkan diri ke dalam suatu organisasi. Bertolak dari banyaknya mahasiswa yang cenderung apatis, penulis rasa penting untuk merenungkan kembali kata-kata Ir. Soekarno, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitu yakinnya Soekarno bahwa kita, para generasi muda dapat mewujudkan mimpi memajukan Indonesia. Jangankan hanya sekedar memajukan dan menyelesaikan problematika bangsa, di tangan generasi muda, tergenggam masa depan Indonesia sebagai bangsa yang akan mengguncangkan dunia. Guna mewujudkan perkataan Bung Karno ini, sikap apatis pada mahasiswa harus dilenyapkan, mengingat peran mahasiswa sebagai salah satu kekuatan oposisi dan perpanjangan lengan rakyat.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...