Thursday, September 26, 2024

Diskusi Pemilu AS 2024 Harris vs Trump, Mana Yang Lebih Menguntungkan Indonesia?

Shaping the Future of Indonesia-US Diplomatic Relations

@america

1. Meutya Hafid (Ketua Komisi I DPR RI)

- Pemilu US tidak hanya berdampak pada US tapi banyak negara termasuk Indonesia. Pemilu AS mendatang semakin menarik karena terdapat 1 calon presiden perempuan yang awalnya dianggap tidak akan menang, tetapi semakin mendekati 5 November 2024, hasil surveynya semakin baik dan meninggalkan Donald Trump.

- AS memiliki sistem pemilu yang berbeda dengan Indonesia, di mana Indonesia one man one vote, sementara AS memiliki negara bagian yang memiliki electoral college. Sama dengan sebelumnya, pemilu AS terpolarisasi menjadi 2 kutub, dan siapapun yang akan menang, akan berpengaruh terhadap negara lain.

- Dampak terhadap Indonesia? Ketika Partai Demokrat (Kamala Harris) menang, multikulturalisme dan perdagangan bebas akan semakin kuat. Namun apabila Partai Republik (Trump) menang, masalah yang menjadi kekhawatiran sebelumnya juga tidak terjadi. Saat Trump menjadi presiden, kerjasama AS dengan Indonesia juga masih bagus.

- Siapapun yang menang, kita akan dapat advantage. Namun strategi harus direncanakan sekarang karena arah keduanya bebeda dan mempengaruhi peran Indonesia di geopolitik kawasan. Bagaimana relasi Indonesia dengan China, akan menjadi isu yg dibahas dalam Indo-AS, termasuk bagaimana Indonesia memposisikan diri sebagai non align dan tetap di tengah.

- Di era Presiden Prabowo nantinya, arah politik luar negeri Indonesia ke depan tidak akan banyak berubah, namun meningkat secara intensitas. Prabowo sudah mendatangi 10-11 negara bahkan sebelum dilantik pada Oktober 2024. Kemungkinan ke depan juga akan ke AS, tetapi belum diketahui apakan sebelum atau sesudah Pemilu di AS. Dalam rapat kerja Komisi I dengan Menhan, Prabowo menekankan ketahanan global dan berapa kali menyebutkan betapa pentingnya foreign policy.


2. Yose Rizal Damuri (Direktur Eksekutif CSIS)

- Di zaman Obama, terdapat kebijakan Pivot to Asia yg lebih banyak melirik ke SEA, tetapi nyatanya kita tidak melihat ada implementasi yang cukup. Indonesia dan AS baru meningkatkan kerjasama menjadi comprehensive strategic partnership. SEA mendapat perhatian yg lebih besar dari AS karena adanya faktor China yg membuat AS membentuk Indo Pacifi Framework dalam bidang ekonomi. Factor China juga yang membuat AS menginisiasi Indo-Pacific Strategic. Namun di luar itu, Indonesia tidak terlalu masuk dalam perhitungan AS.

- Ke depan, posisi Indonesia mungkin berubah. Kita mempunyai kebijakan bebas aktif, dan selama ini hanya point bebas yang ditekankan, nanti aktif akan ditekankan sampai 3x lipat di era Presiden Prabowo. Hal ini akan mengubah posisi Indonesia di mata AS. 

- Antara Harris dan Trump, mana yang lebih menguntungkan buat Indonesia? Hal ini tergantung dari isu yang dibahas. Selama 8 tahun ini dalam isu ekonomi baik Partai Republik dan Partai Demokrat mempunyai pandangan dan strategi yang sama menyikapi China. Namun keduanya memiliki approach yang berbeda. Revitalisasi tarif bea masuk menjadi instrumen utama kebijakan ekonomi Trump dalam menghadapi China. di zaman Biden strateginya sama, tapi caranya dengan memperkenalkan industrial policy untuk meningkatkan kapasitas dalam negeri AS. Keduanya adalah instrument yg bersifat proteksionis.

- Ke depan, kita bisa mengharapkan Trump ataupun Kamala yang terpilih, dapat mempertahankan kedua cara kebijakan. Masalahnya adalah periode Trump kita melihat AS yang menjadi transaksional. Ini berbeda dengan zaman Biden. Mungkin buat Indonesia, akan lebih mudah dealing dengang transaksional karena lebih jelas, tetapi kita juga mengingkan AS membawa bukan hanya interst sendiri, tetapi global interest, dan ini agak sulit kalau melihat periode Trump yang pertama.

- AS memiliki startegi derisking, sebagai upaya untuk mendisversifikasi supply chain mereka. Mereka membangun supply chain dari negara yag dianggap friendly terhadap AS. Banyak negara yag mengambil kesempatan tersebut, seperti multinational corporation Vietnam, Malaysia, dan India.

- Kita harus mengubah pandangan hubungan ekonomi dengan AS, karena sangat jaub berbeda dengan China dan Jepang. Ketika berbicara dengan AS, player utama bukan pemerintah, tapi bisnis. Pertama yg harus kita dekati adalah sektor swasta, memastikan kalau mereka invest ke Indonesia, makan investasi tidak akan diganggu. Iklim bisnis Indonesia yang perlu diperbaiki terlebih dahulu, baru kita berurusan dengan pemerintah. Hal ini berbeda dengan China karena perekonomian mereka yang diarahkan oleh pemerintah, sehingga kita approach pemerintah dulu.

- Masalah tanggapan AS apabila Indonesia align ke China, tidak menjadi masalah selama kita memiliki kondisi atau iklim bisnis yang mendukung perokonomian. Ini berlangsung juga dengan Vietnam yang memiliki hubungan erat dengan China, tetapi tidak menjadi masalah karena bisa menawarkan sesuatu kepada ke AS. Alasan dari kenapa sektor ekonomi kita cenderung lean ke China, karena memang hanya China yang mau masuk dan dapat toleransi permasalahan di Indonesia seperti KKN, sementara negara maju melihat hal tersebut sebagai kendala.


3. Andi Widjajanto (Gubernur Lemhannas 2022-2023)

- Membaca politik global amerika, platform politik AS dapat dikategorikan berdasarkan partainya. Partai Republik cenderung military industrial complex, sehingga hankam dibesarkan, sementara Partai Demokrat lebih mengarah social security dan anggaran hankam diperkecil. Partai Republik menjadikan policy dunia, sementara Partai Democrat mengandalkan mekanisme multilateral. Terkait Middle East, Partai Republik terkesan "Israel first," dan Partai Demokrat Kembali mengandalkan mekanisme multilateral. Di atas adalah dikotomi sederhana yang tampaknya masih konsisten sampai sekarang.

- Salah satu anomali muncul ketika terdapa isu di mana Partai Republik dan Partai Demokrat kompak, seperti dalam "war on terrorism". Perbedaannya, Obama (Partai Demokrat) menginginkan transparansi Guantánamo, sementara Partai Republic ingin close. Kedua partai juga kompak menanggapi China yang menjadi saingan, tetapi secara ekonomi belum melebihi AS. Kemudian 1 lagi tentang teknologi, Partai Republik melalui Trump, dan Partai Demokrat melalui Biden sama-sama tidak menginginkan penguasaan AI di luar AS, sehingga sama-sama memproteksi chip dari Belanda.

- Mana yang akan lebih menguntungkan Indo? Trump atau Harris? Semua tergantung isu. Misal beberapa hari ini dari tim Prabowo muncul isu medical check up gratis yang bersifat universal. Platform ini lebih cocok dengan Partai Demokrat karena mirip dengan Obama Care, di mana ketika pandemik bersama-sama mengajukan perubahan arsitektur kesehatan global. Ini platform yang sangat mirip dengan approach Partai Demokrat. Kalau Partai Republik platformnya adalah orang diberikan kebebasan untuk memilih sendiri layanan kesehatan, tidak dibebankan ke negara, dan tidak dipotong dari gaji yang bersangkutan.

- Kalau persoalan Israel, kita lebih cocok dengan Partai Demokrat dibanding Partai Republik. Di masa Trump, AS memindahkan ibukota ke Jerusalem, yang menjadi masalah bagi Indonesia. Sementara itu, Partai Demokrat cenderung akan mengusulkan semacam interaksi antar negara seperti Mesir, Arab Saudi, UAE, dan berkemungkinan mengajak Indo untuk berdiskusi isu Israel-Palestina.

- Semua tergantung dari isu, dan kita harus melihat apa yang akan menjadi platform dari konfigurasi pemerintahan Prabowo dan kabinetnya pada Oktober 2024 maupun AS pada Januari 2025. Misal isu kenaikan signifikan alutsista di 2025. Minggu lalu saat menghadiri Air Show di Bali, banyak membincangkan usulan AU yang mana saja disetujui Prabowo untuk tahun 2025-2029. Melihat ini, Indonesia akan lebih cocok apabila Trump menjadi presiden. Selain itu, Trump juga tidak akan mengotak-atik latar belakang. Sementara Harris cenderung mengakomodir aktivis human rights sehingga dapat menjadi permasalahan.

- Di bidang politik pertahanan dan aspek keamanan, kita tidak pernah memikirkan dampak dari sanksi enkonomi kalau berinteraksi dengan negara lain. Kita harus merumuskan bagaimana hedging dan berinteraksi dengan negara lain, tanpa menimbulkan kegelisahan dari AS. Ini adalah realitas politik luar negeri yang dipermasalahkan AS.

- Akan menimbulkan pertanyaan apakah Indonesia serius dengan AS, karena di satu sisi, political counselor dari AS lancar berbahasa Indonesia bahkan bisa pantun, namun Dubes Indonesia untuk AS selalu berganti. Saat ini, kita tidak mempunya Dubes di AS dan tidak ada Dubes AS di Jakarta, di mana Dubes terlama adalah Pak Roeslani yang seharusnya akan digantikan oleh Pak Wishnutama. Ini akan menimbulkan pertanyaan terkait relasi hubungan luar negeri Indonesia dengan AS di masa mendatang.

- Pengalaman Andi Widjajanto saat masih menjadi Gubernur Lemhannas dan membantu Jokowi bertemu dengan beberapa calon investor untuk IKN, terdapat 3 perilaku investor. Pertama normal, mereka lihat ada kepastian dari UU masuk proyek starategi nasional, setelah itu mereka menunjukkan ketertarikan, melakukan visibility studies dengan E&Y dsb, dan akan masuk 3 tahun kemudian. Kedua, pengusaha yang tidak mau repot dan menunggu pemerintahan baru. Kebanyakan dari tipe ini adalah pengusaha lokal. Ketiga, yang akan masuk ketika melihat akan berkaitan dengan Belt and Road Initiative. Apabila masuk BRI, bunga hutang dan cost of money turunm dari yang semula beban investasi 100 dan bunga 250, setelah masuk BRI hanya akan menjadi 110, di mana hal tersebut sangat signifikan dan cepat. Namun kalau kita ikut masuk ke BRI, alarm AS akan menyala dan mempertanyakan alignment Indonesia dengan China.

- Pertanyaan ke depan adalah lebih baik kita masuk ke dalam Belt and Road Initiative (BRI), Indo-Pacific Economy Forum (IPEF), atau Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Kalau kita masuk keanggotaan OECD akan repot luar biasa mengingat Presiden Prabowo mau meningkatkan perdagangan senjata dan alutsista.

- Biden dan Obama terlihat dekat dengan konglomerat seperti Bill Gates. Sementara hubungan antara Trump dan Elon Musk menjadi menarik untuk diamati karena keduanya progresif dan punya karakter kuat. Berdasarkan pengalaman di pemerintahan, semakin kita berurusan dengan dewa, semakin penting mengetahui aspek psikologi personal. Secara pribadi dari sisi keilmuan, saya lebih tertarik dengan Trump karena dia bisa membuat kebijakan tanpa komunikasi ke West Wing dan Pentagon, dan kerap bertemu dengan org-orang yang sama kuanyat

- Merekomendasikan buku berjudul "The Age of Strong Man" yang didalamnya turut dimention Putin, Erdogan, Duterte, Trump, Modi, Xi Jinping, terlebih presiden kita ke depan adalah Prabowo.

- Terkait Project 2025 yang saat ini viral di AS. Kalau dilihat dari spektrum 1-10 di mana skala 1 adalah komunis AS dan skala 10 adalah kristen radikal, Trump sering sebut Harris sebagai "Comrade" untuk menggambarkan kedekatannya dengan komunis. Project 2025 adalah gimmick untuk mengunci konstituen skala 8-10 (Republican) agar setiap pemilu akan selalu tetap ke Partai Republik, di mana yang kuat adalah peran eksekutif, bukan negara. Namanya spektrum politik, semakin ke kiri dan kanan, jumlah pemilihnya semakin dikit. Hal ini sama dengan Indonesia di mana kiri sosialis dan kanan Islam radikalis, tetapi mayoritas pemilih berada di tengah. Project 2025 hanyalah cara mempertahankan konsekuen Kristen radikal, yang sering dicitrakan sebagai penganut flat earth dan percaya Trump sebagai penyelamat.

- Terkait blackswan terdapat beberapa potensi, yakni apakah perang akan semakin meluas di Israel-Palestine, Rusia-Ukraina, atau terjadi perluasan perang China-Taiwan. Pelintasan kapal di Djibouti, dapat dijadikan indikator untuk mengetahui ekonomi dunia normal atau tidak, karena di Djibouti terdapat pelabuhan yang dikuasai AS dan China. Lebih lanjut, untuk keluar-masuk Djibouti, harus melewati Yaman di mana ada Houthi yang sekarang memiliki rudal hipersonik. Kalau pelintasan kapal ini terganggu, maka distribusi seluruh komoditas dunia akan terganggu dan harga akan naik.

- Eskalasi kedua yang mengarah ke black swan adalah bubble yang meledak di ekonomi dunia. Kalau di China adalah sektor property, di seluruh dunia yakni cryptocurrency, dan di AS adalah konservatisme Bank Federal untuk menahan inflasi. Kalua bubble meledak sebelum Pemilu AS pada 5 November 2024, dapat dipastikan Trump akan menang karena publik akan antipasti terhadap Partai Demokrat akibat Biden dan Harris.

No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...