Monday, March 4, 2024

Diskusi Relasi ASEAN-Tiongkok Selama 33 Tahun

Peluncuran dan Pelantikan Ketua The ASEAN China Research Center dan Menyongsong 33 Tahun Hubungan ASEAN-Tiongkok: Membangun Ekosistem Perdamaian Demi Mencapai Kemakmuran Bersama

Kampus UI Salemba



1. H.E. Sugeng Rahardjo, Duta Besar Indonesia untuk RRT Merangkap Mongolia 2014-2017


a. Perkembangan ubungan ASEAN dan Tiongkok:

1) Juli 1991, setelah 1 tahun pencairan hubungan diplomatik dengan Tiongkok, berlangsung sidang Menlu di Kuala Lumpur, Malaysia yang memutuskan Tiongkok sebagai consultative partner ASEAN

2) 1992, ASEAN mengeluarkan ASEAN Declaration on the South China Sea, yang pada dasarnya menekankan perlunya penyelesaian sengketa secara damai di kawasan LCS

3) 1996, ASEAN memutuskan Tiongkok menjadi dialog partner pada The 29th ASEAN Ministerial Meeting/Post Ministerial Conference (AMM/PMC) di Jakarta

4) 2002, Indonesia menjadi Country Coordinator untuk dialog ASEAN-Tiongkok dengan mengeluarkan Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC). DOC ini menjadi pedoman bertindak bagi negara ASEAN dan Tiongkok dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah, serta mematuhi prinsip hukum laut. DOC menjadi awal pembentukan norma regional atau Code of Conduct (COC) in South China Sea yang masih dirundingkan

5) 7 Oktober 2003, berlangsung Bali Concord II yang membentuk 3 pilar; ASEAN Economic Community, ASEAN Sociocultural Community, dan ASEAN Security Community

6) 2021, KTT ASEAN Tiongkok memutuskan hubungan ASEAN-Tiongkok berada di level kemitraan strategis komprehensif, dari sebelumnya yang berstatus kemitraan strategis


b. Perkembangan Tiongkok di geopolitik dan geoekonomi:

1) 2010, Tiongkok menggeser Jerman sebagai negara dengan perdagangan terbesar

2) 2012, Tiongkok menggeser Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia

3) Terjadi pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi dari AS dan Eropa ke Asia, sehingga abad 21 disebut sebagai kejayaan Asia, terutama Tiongkok, India, dan ASEAN

4) Berlangsungnya rivalitas Tiongkok-AS dalam 4 hal, yakni teknologi, infrastruktur, investasi, dan keamanan.

a) Teknologi

- Huawei dihambat untuk memasarkan 5G di AS, diikuti dengan kebijakan AS untuk melarang adanya teknologi canggih milik AS untuk jatuh ke Tiongkok

b) Infrastruktur

- Tiongkok menghidupkan kembali Jalur Sutra Modern yang dinamakan Belt and Road Initiative (BRI/B&R), yang dirancang untuk mengembalikan kejayaan Tiongkok sebagai pusat konektivitas dan peradaban dunia

- Untuk menyaingi, AS membuat 2 kebijakan yakni Blue Dot Network (2019) dan Build Back Better World (B3W)(2021)

- AS berjanji akan mewujudkan kawasan Pasifik yang tangguh di bawah kepemimpinan AS

c) Investasi

- AS membatasi semua investasi AS di Tiongkok

d) Keamanan

- Ketegangan militer di Laut China Selatan (LCS) menimbulkan ekses terhadap keamanan politik dan ekonomi di Kawasan

- Terdapat kecenderungan munculnya perang proxy di antara kedua negara yang membagi negara kawasan ke dalam kelompok aliansi AUKUS dan QUAD


c. Instrumen traktat ASEAN:

1) Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN)

2) Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC)

3) Southeast Asia Nuclear Weapon-Free Zone (SEANWFZ)

- Tiongkok sebagai satu-satunya negara pemilik senjata nuklir yang bersedia menandatangani perjanjian zona bebas senjata nuklir di kawasan Asia tanpa syarat. Sementara 4 negara anggota P5 lainnya (AS, Perancis, Rusia, Inggris) belum bergabung


2. Jona Widhagdo Putri, Ph.D, Staf Khusus Menkomarves / Wakil Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT)


a. Tantangan hubungan Indonesia-Tiongkok dalam satu dekade ke depan terkait dengan Five Ds;

1) demography

- Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami penurunan demografi dan kenaikan aging population, tetapi Indonesia masih mengalami bonus demografi dengan nanti diharapkan pada tahun 2030-2040, terdapat 64% populasi dengan umur 15-16 tahun

2) debt

3) deglobalization

- Indonesia bisa terus mendukung local industries dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) terus ditingkatkan melalui Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3PDN)

- teknologi transfer dengan Tiongkok

- membangun sister industry cooperation, satu di antaranya adalah Two Countries Twin Parks (TWTP), di mana Yuanhong Investment Zone di Fujian menjadi core anchor investment zone. Indonesia bekerjasama dengan Bintan Industrial Estate, Batang Integrated Industrial Estate, dan Aviarna Industrial Estate di Semarang

- ke depan direncanakan akan berdiri  Halal Center di Fujian yang bisa menjadi basis produk UMKM dan dapat dipasarkan ke 1,4 miliar pasar Tiongkok, termasuk produk hilirisasi rumput laut dan perikanan dari Indonesia Timur

4) decarbonation

5) digitalization

- adanya e-catalog untuk semua pembelian atau government procurement baik dari desa, kabupaten, atau provinsi


No comments:

Post a Comment

Kabinet Merah Putih 2024-2029

Kabinet Merah Putih UU No. 61 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No. 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (merevisi pembatasan jumlah ...