Semenjak hasil Muktamar ke-34 di Situbondo pada 1984, NU terlepas dari kepentingan politik praktis dan kembali ke khittah NU 1926. Namun, tidak dapat dipungkiri, dilansir dari nu.or.id, massa NU yang setidaknya berkisar 80 hingga 90 juta pemilih atau 40 hingga 45 persen dari DPT, sangat menggoda untuk dimanfaatkan sebagai kepentingan politik.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan NU tidak masuk ke dalam politik praktis. Ia mengungkapkan tidak ada calon presiden maupun wakil yang mewakili NU dalam Pemilu 2024 mendatang. Ia juga berharap calon pemimpin yang mencalonkan diri untuk menunjukkan rekam jejak dan prestasi dibandingkan menggunakan nama besar NU.
Walaupun demikian, keterlibatan NU dalam politik tidak mungkin untuk dihindari, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sudah menjadi rahasia umum berbasis massa NU yang juga diakui oleh mantan Ketua PBNU sebelumnya, Said Aqil Siradj bahwa PKB dan NU sudah melekat dan tak terpisahkan.
Meskipun tidak ada afiliasi tertentu antara NU dengan suatu calon dan massa NU bebas untuk memilih pihak manapun, sosok yang lekat dengan NU seringkali digandeng dalam pemilu, seperti Hasyim Muzadi yang menjadi wakil Megawati pada 2004 dan juga Ma'ruf Amin, yang mendampingi Joko Widodo dalam periode kedua tahun 2019.
Berdasarkan penelusuran sok-sok an saya sebagai pengamat politik dan sosial media, seringkali ditemukan meme dan bahan banyolan terkait wapres kita yang cenderung dinilai jarang terlihat dan berkontribusi menjalankan tugasnya. Namun saya tidak lantas menempatkan diri sebagai basis kontra dalam hal ini karena menilai strategi politik, menjadikan Ma'ruf Amin sebagai wapres justru adalah keputusan jenius yang dilakukan praktisi politik.
If i'm the mastermind behind this political scheme, I gotta do the same. Ya kredibilitas calon presiden memang penting, tapi nomor dua. Ehe. Nomor pertama ya gimana caranya biar menang. That's politics, seni bagaimana untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.
Dulu sebelum Pilpres 2019 ada beberapa nama inisial M yang diduga akan mendampingi Jokowi, salah satunya adalah Mahfud MD. Melihat track record Mahfud MD dapat dikatakan bisa menjadi "Cawapres ideal," tetapi sangat disayangkan terdapat satu poin penting yang kurang bila mempertimbangkan dari segi latar belakang. Jika Presiden sudah berasal dari golongan nasionalis, sebaiknya untuk wakil diisi oleh seseorang dengan background lain, yang bisa mensupport dan memiliki basis massa banyak. Iya, betul, maksudnya tokoh agama. Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah Muslim, dan Muslim Indonesia secara kultural didominasi NU, maka kunci kemenangan Pilpres adalah dengan menggandeng tokoh sentral NU. Atau kalau bahasa yang saya dapat pas perkuliahan dulu sih, dengan memanfaatkan "politic ID" para pemilih. Penunjukkan Ma'ruf Amin juga memberi keuntungan dalam politik pragmatis karena dapat membungkam berisiknya sekelompok umat Islam yang selama ini menyerang Jokowi di periode pertama yang kerap memframing Jokowi sebagai sosok presiden yang anti ulama dan anti-Islam, terlebih setelah gegernya blunder Surah Al-Maidah 51 Ahok dulu. Situasi inilah yang memaksa Jokowi mau tidak mau, kalau mau menang, harus kasih perhatian lebih ke umat Islam dengan upaya jitu kasih kursi RI 2 ke Ma'ruf Amin.
No comments:
Post a Comment