Sejauh yang aku ingat, kenanganku dengan binatang peliharaan hanya satu dan tidak begitu menyenangkan. Tepatnya pas SD, saat ku memelihara kelinci yang ku beri nama Bambam, seekor pejantan coklat yang lucu dan doyan makan. Long story short, aku punya sekitar belasan bayi kelinci hasil kawin Bambam dan seekor betina, tapi mereka semua mati kepanasan karena mama memasang lampu di kandang mereka dengan maksud agar mereka tetap hangat.
Tapi yang paling menyedihkan bukan bagian itu, melainkan saat aku dikabari mama kalau Bambam mati karena sakit, dan aku baru tahu penyebab sebenarnya tiga tahun setelahnya. Bambam dimasak. Aku pun turut memakannya tanpa pikiran apa-apa menyangka daging bertahun-tahun lalu itu daging ayam, seperti yang biasa aku makan.
Hah kesal sekali kalau diingat karena mama menceritakan ini sambil tertawa-tawa. Bambam dimasak karena tetangga yang terus-terusan complain masalah bau dan sanitasi, karena mama sudah malas membersihkan kandang sementara aku terlalu sibuk dengan les dan sekolah.
Bisa dibilang mungkin sampai sekarang aku trauma memelihara binatang. Sempat belakangan ini beberapa kali berpikiran ingin pelihara binatang kecil yang low maintaince saja, mungkin kura-kura tapi tidak jadi karena mereka begitu membosankan dan bisa tumbuh menjadi sangat besar, mungkin tupai tapi mereka membutuhkan kandang yang besar dan sangat bau pesing, mungkin hamster tapi setelah dipikir lagi tidak jadi deh mereka benar-benar mirip tikus. Hingga akhirnya aku berpikiran dan hampir saja memelihara tarantula, brachypelma smithi tepatnya. Mereka sangat low maintaince dan hanya perlu diberi makan beberapa minggu sekali. Di dekat rumahku bahkan ada yang menjual cacing kering dan kecoa madagascar sehingga aku tidak pelu repot-repot kalau jadi pelihara tarantula. Hampir, hampir sekali beli spiderlings sampai akhirnya batal karena kabar kakak ipar yang serumah denganku hamil. Dan tentu aku tidak berani ambil resiko ditendang dari rumah hanya karena memilih tarantula dibandingkan calon keponakan.
Aku menyerah dengan binatang peliharaan dan memikirkan opsi, bagaimana kalau tumbuhan saja? Kaktus dan sukulen sempat jadi pertimbangan, sampai iseng men-google plant as pet dan keluar alga jepang menggemaskan ini, yang sering disebut marimo atau japanese moss ball.
Meskipun disebut mossball, marimo sebenarnya adalah alga, bukan lumut. Mereka native dan hanya terdapat di Lake Akan, Jepang, tempat di mana mereka secara terbentuk menjadi bulat secara alamiah. Lucu sekali bukan? Bulat, hijau, dan sesekali mengapung dan tenggelam. How could I resist not buying this one?
Aku purchase marimo ini seharga 200k dan ia baru saja tiba hari ini. Should I give it a name? Ah aku buruk sekali dalam memberi nama. Mungkin sesuatu yang berbau jepang sebagaimana ia berasal? Mokun? Mo- dari alga dan -kun panggilan akhiran jepang? Yeah, I think I'm coming up with this one.


No comments:
Post a Comment